30.11.12

When you're desperately missing someone and you don't know how to say it...it just hurts.

28.11.12

Please, I Want You (part 5)

Saat Wendy mengatakan hal itu, aku hanya bisa diam dan sejenak, tidak ada percakapan di antara kami. Aku merasa kesal, kesal sekali. Marah tepatnya. Marah karena aku menyadari Dinda, si cantik yang nyaris sempurna itu memiliki kesempatan yang besar untuk dimiliki Wendy. 

"Terus? Jadi...lo mau pacarin dia?" tanyaku setelah aku berhasil mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kata-kata dari kerongkonganku.

24.11.12

Loving You

Zurich, 20 November 2012

Kota ini masih sama. Masih cantik, masih sering diselimuti kabut abu-abu yang sangat romantis di mataku. Aku tidak pernah suka kembali ke kota ini. Kota ini terlalu banyak menyimpan kenangan bagiku. Tetapi, tanggung jawab akan tugas kantor yang mengharuskan aku bekerja di sini selama dua tahun ke depan, membuatku berusaha keras untuk melupakan kenanganku.

Gemericik air hujan masih menumbuk-numbuk jalanan kota Zurich sore ini. Hujan mengguyur kota yang cantik ini sejak dua jam yang lalu, dan kini menyisakan hawa dingin dan semburat kelam di langit. Aku memeluk cangkir berisi cokelat panas sambil menerawang ke arah jendela kafe ini. Langit sore ini mengingatkanku pada hari itu. Mengingatkanku pada perpisahan yang menyakitkan itu. Mengingatkanku pada Stephen.

***

23.11.12

Please, I Want You (part 4)

Hari-hari kulalui dengan tidak biasa setelah obrolanku dengan Vindy siang itu. Aku terus-menerus memikirkan dan menimbang-nimbang apakah perlu aku mengungkapkan perasaanku pada Wendy. Aku masih belum punya cukup keberanian (kenekatan, tepatnya) untuk mengungkapkan perasaanku. Aku belum siap dengan kemungkinan jika Wendy memberikan respon yang menyakitkan. Ah, jangan sampai!

Sementara itu, Wendy masih sering mengajakku pergi. Nonton film, makan siang, atau sekadar mengajakku ke studio musik tempat ia biasa berlatih dengan band-nya. Sebenarnya tidak jarang juga aku menolak ajakannya dengan berbagai alasan, dari alasan paling masuk akal sampai alasan tidak penting seperti "Maaf, Wen, gue mau bersih-bersih kamar." sudah kukemukakan, tetapi Wendy selalu punya cara untuk meruntuhkan pertahananku. Entahlah, aku belum lama suka sama dia, tetapi kenapa pertahananku bisa diruntuhkannya dengan mudah. Bahkan saat aku belum yakin dengan perasaanku, apakah aku benar-benar tulus mencintainya, atau aku hanya terobsesi untuk memilikinya.

Cinta memang membuat diriku sering bertindak bodoh.

***

22.11.12

Please, I Want You (part 3)

Sudah beberapa hari berlalu sejak obrolanku dengan Wendy di kantin waktu itu. Aku berusaha untuk menjaga jarak dengannya karena aku tidak mau dia menjadikanku sahabatnya, dimana hal itu akan membuatku kehilangan kesempatan untuk memilikinya. Ya, sebelum kami meninggalkan kantin waktu itu, ia sempat berkata bahwa apa yang dikatakan ayahnya benar. Tetapi, ia berkata bahwa Dinda adalah pengecualian baginya. Dasar kepala batu, batinku. Aku berharap Dinda tidak akan pernah mau membalas cintanya sampai kapanpun, karena aku tahu cuma aku yang layak ia cintai, bukan Dinda!

Namun, usahaku untuk menghindari Wendy tampaknya tidak berjalan mulus. Wendy justru sering mengajakku pergi bareng, hanya sekadar minum kopi di kafe dan mengobrolkan hal-hal kecil di kehidupan kami. Awalnya aku senang karena aku banyak punya waktu dengan dia (dan sempat kepikiran bahwa ini adalah usaha dia untuk mendekatiku), tetapi gara-gara Vindy mengingatkanku tadi siang aku jadi menyadari satu hal.

21.11.12

SHOUTS OF MIND

"Mencintaimu itu seperti candu.

Ya, membuatku ingin lebih dan lebih, meskipun aku tahu bahwa candu itu akan membuatku sakit. Akan membuatku menderita. 
Awalnya manis, dan sangat menggiurkan. Namun pada akhirnya, semua itu akan merusak ragaku."

"Aku mencintaimu dengan syarat.

Omong kosong jika orang berkata bahwa cinta yang indah adalah cinta tak bersyarat. Aku tidak sependapat. Karena aku mencintaimu dengan syarat. Hanya satu syarat: jangan tinggalkan aku."

"Aku telah jahat pada diriku sendiri.

Semua karena aku bersikeras untuk mencintaimu. Meskipun aku tahu mencintaimu akan membuatku lelah dan kau tidak akan pernah membalas cintaku."

"Kau akan kuingat selalu.

Aku mungkin akan lupa dengan memori kita ketika aku menua, tapi percayalah, aku tidak akan pernah lupa dengan dirimu."

"Kau memori manis yang kusimpan rapat dalam sangkar emas di hatiku.

Dirimu terlalu menyakitkan untuk dikenang. Namun terlalu manis untuk dilupakan..."

Please, I Want You (part 2)

Aku mengejar Wendy yang sudah berjalan menuju kantin di sayap kanan kampus kami. Aku menjejeri langkahnya dan menawarkan bantuan untuk membawakan sebagian benda yang ia bawa, tapi ia menolaknya.

"Eh Ta, gue mau cerita sama lo. Gue pengen minta pendapat lo," ujar Wendy tiba-tiba.

"Cerita apa, Wen? Kepo nih gue!" seruku antusias.

"Udah entar aja sambil makan. Yuk cepet, udah mau jam 12."

Aku pun mempercepat langkahku dan tidak lama kemudian kami sampai di kantin. Aku langsung mengambil tempat duduk di pojok kanan kantin yang agak sepi dan tersedia meja kecil dengan dua kursi yang berhadap-hadapan. Ah, nice place,batinku. Setidakya aku bisa merasa lebih dekat dengan Wendy.

Tak lama kemudian Wendy datang membawa dua piring nasi goreng dan dua gelas es jeruk yang kelihatan sangat menggoda. Wendy meletakkan makanan dan minuman di meja, kemudian duduk di hadapanku. Ia terlihat termenung sejenak sebelum akhirnya mulai menyantap nasi goreng di hadapannya.

"Tadi malam gue dapat nasihat dari bokap gue, Ta," ujar Wendy memulai pembicaraan.

"Hmm, nasihat apa?"

"Jadi gini," Wendy mengunyah makanannya kemudian meneguknya. "Lo tau lah ya kalo gue udah lama suka sama Dinda,"

"Terus?" Duh. Nama itu lagi yang disebut. Aku sudah muak dengan cerita Wendy tentang Dinda.

14.11.12

Please, I Want You (Part 1)

Aku memang orang yang sulit melupakan masa lalu, tapi Alex adalah pengecualian bagiku. Entahlah, aku mudah sekali melupakan dia. Mungkin ini karena dulu aku yang memutuskannya, jadi aku merasa lebih bertanggung jawab dengan perasaanku. Tapi melihat status Facebook-nya tadi siang benar-benar menohok dadaku.

Alex menuliskan status yang intinya menyesal pernah bertemu denganku. Dia menuliskan di statusnya bahwa ia sangat kesal dengan dirinya sendiri karena telah menghabiskan waktunya dengan orang yang tidak pantas dicintai sepertiku. Meskipun dia tidak menuliskan namaku di statusnya, tetapi aku tahu status itu ditujukan padaku. Ya, setidaknya instingku mengatakan begitu.

Gara-gara membaca status Facebook Alex, aku jadi kesal sendiri. Bahkan ketika aku harus membuat handmade poster untuk acara bakti sosial minggu depan saja aku tidak konsentrasi. Aku tidak bisa bekerja dengan tenang, meskipun ada Wendy yang membantuku membuat poster itu.

13.11.12

How to Make Organic Compost

Okay, maybe some of you think that this post is such a random post, but for sure I write this because this is worth to share. Yeahm gue akan nulis tentang cara membuat PUPUK ORGANIK. Are you readeeeeh?? Olret. I love you, guys *tebar cium jauh* *digampar massa*

Cinta Ibu selalu Ada untuk Kita

"Bu, aku mau ikut camping sama anak-anak Pramuka, ya," ujar Sasti seraya meletakkan piring kotor di tempat cucian piring. Sementara ibunya sedang sibuk memotong-motong wortel di sebelahnya.

"Kamu kok akhir-akhir ini sering pergi sih, Sasti? Kamu nggak capek? Minggu depan kamu ujian semester lho," ibu masih asyik dengan pekerjaannya.

Sasti mendengus kesal. "Ah ibu. Kan camping nggak seminggu sekali bu. Lagian kemarin waktu camping di bumi perkemahan Sasti udah nggak ikut. Sasti kan nggak enak sama Kak Fendy, Bu. Ntar Sasti dikira bukan ketua yang bertanggung jawab."

Ibu menghentikan kegiatannya. Iya berbalik dan menatap Sasti yang sudah menunjukkan muka bete.
"Coba kamu ingat-ingat, dalam seminggu ini kamu berapa jam ada di rumah? Hampir tiap hari kamu pergi. Mending kalau kamu pergi belajar sama teman-teman kamu. Lha ini, kamu pergi buat nonton basket, lah, nongkrong, lah, main di rumah Thiyya, lah...."

"Ah ibu! Coba liat Thiyya, Icha, Dea, semuanya fine-fine aja kalau pergi tiap hari! Dulu Mbak Ayu juga selalu ibu izinin kalau pergi kemana-mana!" Sasti membantah perkataan Ibunya.

"Sasti..." sedikitpun Ibu tidak marah dengan perkataan Sasti. "Mbak Ayu dulu selalu ibu izinin karena ibu tahu dia nggak selalu terima ajakan temannya untuk pergi. Dia berani menolak. Beda sama kamu, yang selaluuuuuu aja ikut apa kata teman kamu. Kalau teman kamu masuk sumur, kamu mau masuk sumur juga?" tanya Ibu sambil memegang bahu Sasti.

Sasti terdiam. Terlalu banyak kata 'tapi' di kepalanya, tapi ia berusaha untuk menahannya. Ia menarik napas panjang. "Ibu kenapa sih selalu bandingin Sasti sama mbak Ayu?"

"Sasti, ibu nggak bandingin kamu. Ibu cuma pengen kamu liat kakakmu itu. Dia punya pendirian. Dia nggak labil seperti kamu. Ibu paham usia kamu memang usia dimana anak dalam keadaan labil-labilnya. Tapi setidaknya kamu bisa belajar dari kakak kamu, Sasti," Ibu membelai rambut Sasti dengan lembut.

"Sasti, kamu tahu kan Mbak Ayu sudah pergi merantau. Bapak juga cuma bisa pulang seminggu sekali. Ibu bukannya ingin kamu bantu ibu jaga Agum sama Putri, atau bantu ibu ngurus rumah. Ibu cuma ingin kamu punya waktu untuk keluargamu, Sasti. Untuk Ibu,"

Sasti terdiam. Kemudian menunduk pelan. Kata-kata Ibu begitu menusuk dadanya. Ia sadar, selama masuk SMP, ia jadi anak yang suka keluyuran dan jarang di rumah. Ia sadar bahwa selama ini ia kurang memiliki waktu dengan Ibu dan adik-adiknya. Bahkan di akhir pekan, ketika Bapak pulang, ia pun sering meninggalkan rumah. Tiba-tiba Sasti merasakan air mata membasahi pipinya. Ia mengangkat wajahnya memandang wajah lelah ibunya. Wanita berusia 45 tahun itu tersenyum padanya. Sorot matanya begitu teduh, mendinginkan hati Sasti yang tadi sempat panas.

"Maafin Sasti, Bu," Sasti memeluk ibunya erat. Ibu balas memeluknya dengan lembut sambil mengacak-acak rambut Sasti. "Sasti janji, Sasti bakal belajar untuk punya pendirian yang teguh,"

"Ibu percaya kamu punya keberanian untuk membantah temanmu, Sasti. Kamu hanya takut kehilangan mereka. Percaya sama Ibu, teman-temanmu nggak akan ninggalin kamu hanya karena kamu menolak ajakan mereka," Ibu menepuk lembut pipi Sasti. Sasti tertawa kecil.

"Jadi, Sasti boleh ikut camping nih, Bu?" tanya Sasti.

Ibu tersenyum. "Untuk kali ini, boleh, Sasti."

Sasti memeluk Ibunya sekali lagi. Tiba-tiba ia merasakan hangat menjalar di dadanya. Ah, ia sadar. Hangat cinta ibu selalu mengalir di darahnya.

11.11.12

You're Just Another Picture to Burn!

I've just downloaded this song and listen to the lyrics. And yeah, suddenly I remember you. Suddenly I remember how fool I was. I lay my heart to person like you, who never treat me well. I realize how fool I am that you always have a place in my heart, that I always have a time for you, that I always let you to lay in my shoulder when you're sad. How fool I am that I realize you never treat me like I treat you. I realized I've wasted my time with someone like you. Ha, NOW GO AWAY FROM ME. You're just another picture to burn.

Memorize

Malam ini galaunya ga kira-kira.
Semua ini gara-gara gue jomblo muter lagu-lagu yang memorizing. Jump Then Fall-Taylor Swift, Yesterday-The Beatles, You Belong With Me-Taylor Swift, plus dua lagu jahanam yang bikin bibir pengen mewek: One and Only sama Don't You Remember-nya mbak Adele. Duh, salah banget muter lagu-lagu kaya gini di malam minggu.

Ini karena gue nggak mendengarkan lagu karena penyayinya cantik/cakep, suaranya bagus, atau musiknya enak didengar. Gue mendengarkan lagu kalau lagu itu liriknya bagus dan gue punya kenangan sama lagu itu. Jadi, semua lagu yang gue taro di playlist malam ini tuh punya kenangan lho. Nih gue sebutin satu-satu ya.


Aku Mencintaimu dalam Diam

Aku mencintaimu dalam diam
Tak pernah mengungkapkannya, tak pernah menunjukkannya.
Aku mencintaimu dalam diam
Tak pernah membiarkanmu mengetahuinya, tak pernah membiarkanmu membalasnya.

Aku mencintaimu dalam diam
aku tidak ingin kau mengetahuinya.
Bukan karena aku tidak sanggup untuk mengungkapkan
tetapi aku tahu, kau akan meninggalkanku jika kau mengetahuinya

Aku mencintaimu dalam diam
aku tidak ingin memilikimu.
Bukan karena aku malu
tetapi karena aku terlalu takut untuk menjaga seseorang yang berharga seperti dirimu.

Aku mencintaimu dalam diam
karena aku tahu
kau tidak akan pernah mengetahuinya
kau tidak akan pernah membalasnya
kau tidak akan pernah merasakan cinta yang sama
karena aku tahu
aku bukanlah orang yang kau cinta.



*an old poem i wrote in my diary at May 12, 2008. This poem is based on my own story.

Image taken from here

9.11.12

Happiness :)

Mungkin sebagian orang merasa bahwa hidupnya belum bahagia kalau dia belum mencapai apa yang dia inginkan. Baik itu urusan karier, pendidikan, atau percintaan. Pendidikan tinggi, karier mapan, tapi belum punya pasangan, belum bahagia katanya. Pendidikan tinggi, punya pasangan, tapi belum sampai puncak karier, belum bahagia katanya. 

Ngomong-ngomong soal bahagia, setiap orang pasti punya standar kebahagiaan yang beda-beda. Ada orang yang kalau sudah mencapai semua impiannya baru bahagia, ada juga kalau udah mencapai dua atau tiga impiannya udah cukup bahagia. 

6.11.12

Aku Sayang Mas Rio

Kalau kalian nanya sama gue siapa cowo yang paling gue sayang di dunia, gue pasti akan jawab gue punya 2 orang cowo yang paling gue sayang di dunia ini. Yang pertama adalah bokap gue sendiri, dan yang kedua adalah adik kedua gue yang namanya Rio.

Gue bukannya ga sayang sama dua adek gue lainnya, Ajeng sama Fio. Tapi karena Rio cowo sendiri, jadi gue demen banget main sama dia hahaha. Dan dia juga manjaaaaa banget sama gue. Kalau gue pas pulang kampung, dia ga mau tidur kalo ga sama gue. Pokoknya mau tidur harus dipeluk sama gue. Ya ampun owit banget ga siiiih :3

Udah gitu, dia ini punya banyak keunikan loh. Hobi dia itu baca, dan kalau gue bilang baca disini adalah BACA APAPUN! Komik, buku pelajaran, koran, sampai kamus pun hobi dia baca. Makanya kadang dia suka nanya-nanya hal-hal yang dia dapat dari bacaannya dia, padahal ga semua anak seumuran dia bakalan nanyain hal kaya gitu. Misalnya, ini salah satu pertanyaan yang pernah dia ajukan ke nyokap gue:

"Bu, harga diri itu apa? Harga diri kita berapa?"

Nyokap gue hanya bisa melongo dan bingung mau jawab apa.

2.11.12

Bersyukurlah, Maka Bahagia Akan Datang :)

Kita sebagai manusia terkadang terlalu sibuk memenuhi keinginan kita, meskipun kebutuhan kita sudah terpenuhi, bahkan lebih dari cukup. Kita sudah punya nasi beserta lauknya, kita masih mencari roti untuk dicemil. Kita sudah punya baju yang masih bagus dan layak pakai, tetapi kita masih sibuk memenuhi isi lemari kita dengan banyak baju baru. Tetapi, kadang kita lupa bahwa banyak sekali orang di luar sana yang bahkan memenuhi kebutuhan dasarnya pun tak mampu. Atau, mereka harus banting tulang dari fajar hingga malam untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan kita, tinggal meminta ke orang tua saja. 

Saya juga baru menyadari kalau selama ini saya sangat kurang mensyukuri hidup saya. Saya selalu membeli barang-barang yang sebenarnya tidak begitu saya perlukan, dan akhirnya jadi mubazir. Saya juga terlalu hobi  menghambur-hamburkan uang orang tua saya untuk sesuatu yang saya inginkan. Tetapi, kejadian yang saya lihat beberapa hari yang lalu membukakan mata saya bahwa hidup saya sudah sangat lebih dari cukup untuk disyukuri.