31.12.12

flashback

Mungkin ini tipe postingan yang ramai dibuat sama jutaan blogger diluar sana, tapi ya pengen buat aja gitu :D Cuma mau flashback ke satu tahun belakangan, apa saja yang sudah didapat dan dialami selama ini. Yuklah cus!

Januari
Agak lupa sih ada apa aja di bulan ini. Yang pasti di bulan ini tuh pertama kalinya ikut UAS setelah menjadi mahasiswa. Pertama kalinya dapat nilai 60 untuk UAS mata kuliah pendidikan agama (memalukan). Di bulan ini juga sempat ada masalah hati, dan gara-gara kejadian itu jadi galau banget :|

Februari
Februari diisi dengan liburan. Pulang kampung pertama kali setelah merantau, dan merayakan ulang tahun sama keluarga dan temen-temen SMA. Cuma kumpul-kumpul sambil makan langsat dan cempedak goreng di rumah, dibumbui curhatan masing-masing tentang kehidupannya menjadi mahasiswa. Terus dikasi surprise sama temen yang beliin kue sama salah satu sobat terbaik gue. Seneng!

Maret
Agak lupa juga sih sama apa yang terjadi di bulan ini. Pertama kali nginjek semester 2, mungkin. 

April
Di bulan ini mulai berani daftar UKMa. Tadinya niatnya sih nggak mau ikut kegiatan apa-apa Pertama ikut UKMa Jurnalistik dan dinobatkan menjadi peserta terbaik dan boleh milih mau masuk ke divisi apa. Trus, kalo nggak salah, di bulan ini juga daftar kaderisasi BEM.

Mei
Mengikuti seluruh kegiatan kaderisasi BEM, tapi nggak kepilih buat ikut camp terakhir. Hectic sama tugas mata kuliah pengantar jurnalistik, wawancarain wartawan gitu. 

Juni
Full-of-cheers- month! 1 Juni waktu itu liputan ke Ragunan bareng kelompok jurnalistik. Ketawa-ketiwi mulu. Juni diisi dengan kegiatan kuliah. Liputan, bikin video stop-motion, jadi dubber, dan sebagainya. UAS juga di bulan ini. Di bulan ini juga mulai sadar mana yang temen dan mana yang temen tapi diam-diam nusuk dari belakang.

Juli
Liburan! (lagi-lagi) pulang kampung sendiri. Tapi seneng aja karena waktu itu liburannya lama.

Agustus
Masih liburan. Nggak ada sesuatu yang spesial kecuali lebaran dan kumpul bareng sama keluarga.

September
Gabung di kepanitiaan ComGath, dan satu kegiatan lain. Mulai merasa menjadi bagian dari kelompok setelah sebelumnya selalu merasa menjadi outsider. 

Oktober
Apa ya disini? Agak lupa juga. Hm, karena terlalu sibuk sama tugas jadi lupa gini kan...

November
Banyak banget yang bisa dipelajari dari bulan ini. Bisa ngerasai sedih-seneng-susah bareng temen-temen. Ngelewatin berbagai ham bareng-bareng. Baru merasa dipedulikan sama orang juga. Ikutan syuting film pendek buat kompetisi intra kampus, pertama kalinya pulang lewat dari jam 11. Capek tapi seneng!

Desember
Banyak banget gejolak di bulan ini. Bulan penuh galau dan bingung. Bingung karena dihadapkan sama seseorang yang complicated banget hidupnya, galau karena....... pokoknya galau deh. Bulan move-on. Bulan sakit hati. Bulan pasrah. Bulan jadi bego. Pokoknya warna-warni.

Jadi cuma itu yang gue inget dari satu tahun belakangan. Ada beberapa hal yang lupa detailnya jadi nggak ditulis. Yang pasti, tahun ini banyak banget pelajaran yang diperoleh. Kenal orang-orang baru, mengunjungi tempat-tempat baru, dan jadi dapat pengalaman baru. Banyak juga hal yang akhirnya mendewasakan. Mencoba mencintai diri sendiri dengan memahami diri sendiri, mencoba melakukan hal-hal yang disukai. Bereksperimen dengan mencoba hal baru. Belajar ini dan itu untuk memperkaya wawasan pikiran dan hati.

Yang pasti, tiap tahun selalu indah. Dan menyisakan pelajaran berarti.

Selamat jalan 2012, selamat datang 2013! Happy New Year! :D

28.12.12

Abu-abu

Aku terus-menerus menyalahkan diriku sendiri. Menyalahkan hatiku dan perasaanku. Juga menyalahkan kehadiranmu. Ya, aku memang egois, atau apalah namanya itu. Aku hanya memikirkan keuntunganku sendiri tanpa mau mengorbankan perasaanku. 

Kini aku berada di daerah abu-abu. Aku terjebak di antara dua pilihan : realistis atau sakit karena rindu. Aku menganggap pilihan yang sedang kulalui ini adalah sebuah bentuk dari sikap realistisku terhadapmu. Aku mencoba memahami dan membiasakan diri dengan dirimu yang sibuk dengan duniamu. Aku mencoba menahan keinginanku untuk sekedar menyapamu lewat pesan singkat. Aku mencoba menahan keinginanku yang sebenarnya ingin tahu keadaanmu. Sekedar itu. 

Aku juga menunggu dirimu yang menanyakan keadaanku. Tidakkah sedetikpun terlintas diriku di pikiranmu? Tidakkah kau bertanya-tanya sedang apa dan bagaimana aku di sini? Tidakkah kau pernah memikirkanku walau hanya sekejap? Aku menunggu dan terus menunggu. Mencoba membiasakan hatiku tak berontak dalam penantian yang panjang dan tak kunjung usai.

Meskipun di satu sisi, aku merasa sakit. Karena harus menahan rindu yang tak terucap itu di sisa tahun ini.

Lagi-lagi aku seakan memaksakan diri untuk bersikap realistis. Kau merindukanku? Sepertinya tidak. Melihat dan mengingat bahwa sepertinya aku tidak bermakna apa-apa di matamu selain seorang teman. TEMAN. Bukan sahabat atau lebih. Hanya TEMAN. Yang mungkin jika aku tidak ada pun, kau tidak menyadari.

Jika boleh jujur, mengetahui bahwa kau baik-baik saja pun aku sudah sangat lega. Namun lagi-lagi, aku akui aku egois. Aku tidak mau menjadi orang pertama yang memulai. Aku memahami bahwa laki-laki selalu berpikir menggunakan logika. Mungkin kau merasa sedang tidak membutuhkanku atau tidak ada hal yang perlu kau ceritakan padaku saat ini. Sehingga kau tidak pernah memberi kabar padaku atau sekedar menyapaku melalui pesan singkat yang selalu kunantikan itu.

Ingin sekali aku menyapamu, namun aku tahu kau mungkin hanya menganggap itu sebagai sapaan yang tidak terlalu penting. Aku memang selalu berpikiran negatif tentangmu, tapi salahkah jika diriku, lagi-lagi, mencoba untuk bersikap realistis? Aku tidak ingin berharap. Aku hanya ingin menunggu. Aku egois, benar, katakan saja jika aku egois dan kau tidak menyukainya. Aku memang hanya berpikir dan terus berpikir, menimbang-nimbang segala tindakanku sebelum melakukannya, dan berakhir pada diriku yang enggan (atau tidak berani?) keluar dari zona nyaman yang melindungi gengsi dan pertahananku.

Aku tidak tahu. Selama ini yang kutahu....
mencintai tidak pernah sesakit ini.

27.12.12

Dunia Itu Sempit

Tadinya gue nggak percaya kalau dunia itu sempit. Tapi, kejadian beberapa waktu lalu membuat asumsi itu terbang kembali ke pikiran gue.

Gimana enggak? Gue ternyata satu kampus sama temen SD gue yang terakhir ketemu sama gue di suatu hari di tahun 2005.

Udah 7 tahun nggak ketemu, dan ternyata dia ada di kampus yang sama dengan gue. 

Namanya Rizky Latief. Gue dulu sekelas sama dia di kelas 4B SDN Utama 1 Tarakan, Kalimantan Timur. Kenapa gue masih ingat sama ini anak? Karena dia ini tipikal anak nakal nan usil yang suka ngolok-ngolok temen gitu. Dan salah satu korbannya adalag gue, hahaha. 

Jadi gue itu dulu adalah murid baru pindahan dari Banjarmasin. Ketika gue baru masuk kelas 4B ini, dia udah ngeledekin rambut gue yang dulu kruwil kayak brokoli (hmm enggak juga sih. Kayak Taylor Swift tahun 2009-an gitu). Pokoknya dia suka ngolok-ngolok gue aja. Dia sebenernya salah satu temen yang nggak gue sukain dan nggak mau gue temuin. Tapi ya namanya sekelas, gimana lagi ya. 

Hingga pada suatu hari, saat itu gue mau ngumpulin ujian MPS ke loket akademik kampus, gue ngeliat si Rizku itu sama cewe di depan ruang 6. Gue kaget dong. Batin gue saat itu "buset, ini cowo mirip banget sama temen SD gue si Rizky Latif!" Segeralah gue masuk ke grup BBM 'Alumni SD Utama 1' dan gue cek membernya. Dan bener, itu kayaknya beneran si Rizky, karena diliat dari DP BBM dia, kayaknya gue nggak salah orang.

Udah, setelah hari itu, gue nggak pernah ketemu lagi sama dia. Pas suatu hari di bulan Desember, gue papasan sama anak itu di depan SC. Dan gue yakin banget itu temen SD gue. Akhirnya, dengan bermodalkan nekat dan tebal muka, gue add PIN BBM dia, dan gue chat lah dia. Trus gue tanya gitu kan apa dia pernah sekolah di SD yang sama dengan gue. Dan dia jawab, IYA. 

BINGO! Ternyata bener, dia temen SD gue yang sekarang satu kampus sama gue.

Jadilah kita BBM-an waktu itu. Nanya-nanya, dia jurusan apa. Ternyata dia baru masuk kuliah tahun ini. Nggak tau juga sih penyebabnya apa. Dan dia bilang dia lupa sama gue hahaha. Lagian gue udah banyak berubah, apalagi sekarang pakai jilbab dan wajah gue juga makin dewasa. Jadi nggak kaget kalo dia lupa hahaha.

Tapi bener-bener suatu kejadian langka di hidup gue loh. Orang yang udah sekian tahun nggak pernah gue temui ternyata ada di satu tempat yang sama dengan gue. Ya, mungkin kejadian seperti ini juga banyak dialami orang lain, tapi gue kaget aja gitu hahaha.

Dan satu lagi, gue juga pernah mengalami kebetulan kayak gini. Tapi gue nyadarnya pas sudah ketemu sama orangnya sekian bulan.

Jadi gue dulu punya blog dan ngefollow blog ini . Gue follow blog ini karena bahasa blognya asik dan isinya menarik. Nah, gue udah follow blog ini dari tahun 2010.

Hingga suatu hari di awal 2012, gue ngebuka blog ini lagi dong. Dan gue baca semua tulisan yang ada di blog dia, sampai yang ditulis sekitar 2009-2010. Dan gue nemu postingan yang ngomongin temen gue yang satu ini . Jadi dia ini satu kampus sama gue, satu kelas pada saat itu. Tapi bukan suatu kebetulan sih kalo gue bilang, dan bukan bukti kalau dunia itu sempit, karena gue taunya ada cerita tentang dia di blog itu pas gue sudah kenal sama orang itu haha.

Dan sampai hari ini, gue belum ada ketemu lagi sama si Rizky. Karena dia bilang dia adalah atlet lari, dan dia memang jarang di kampus karena harus latihan dan sebagainya, jadinya kita juga susah untuk ketemu. Kalaupun ketemu juga nggak kebayang awkward-nya, hahaha. Mengingat dia nggak inget sama gue. 

Dan hal ini, boleh dibilang hal ter-absurd bulan ini. 

25.12.12

Selasa, 25 Desember 2012

potongan kejadian itu terus berlompatan dalam kepalaku. potongan-potongan yang sebenarnya sempat terlupakan, namun tiba-tiba muncul lagi. dan anehnya terasa lebih manis. momen-momen yang biasa, tanpa ada rasa, namun ketika aku mengingatnya lagi, entah mengapa aku ingin kembali ke masa-masa itu.

aku ingin kembali ke masa itu. masa-masa disaat belum ada perasaan yang tidak kukenali ini. ketika aku menemanimu, ketika aku berjalan berdampingan denganmu. tertawa bersama, saling melempar senyum. aku bahagia, namun bahagia yang wajar. tidak seperti sekarang.

aku ingat kau pernah menenangkanku ketika aku menangis. meski tidak secara langsung. saat itu aku hanya menganggap hal itu sebagai perhatian yang wajar, karena kau temanku. tapi ketika aku ingat kejadian itu sekali lagi...aku ingin kembali ke masa itu. 

potongan-potongan memori yang seharusnya kusimpan dalam kotak itu pun bermunculan kembali. menggerogoti pikiranku, menghantuiku kemanapun aku pergi. membuatku ingin kembali ke saat itu lagi, bersamamu lagi. menghabiskan waktu yang sebenarnya tidak terlalu berkualitas, namun aku nikmati.

tapi aku tidak ingin tinggal di masa lalu. aku tidak ingin mengingatnya lagi. karena semakin aku mengingatnya, semakin aku menyadari bahwa aku tidak berarti apa-apa di matamu. semakin aku menyadari bahwa tidak ada kesempatan untukku. semakin aku menyadari bahwa kau akan terus menganggapku sebagai temanmu. hanya temanmu. semakin aku menyadari perasaan yang aneh ini tidak akan pernah kau sadari. dan itu..........................................................................................................................................................................................................................SAKIT.

21.12.12

Selamat Hari Ibu

Gue benci perasaan ini. 
Gue benci suasana mellow kaya sekarang. 
Disaat timeline Twitter gue semua pada sibuk ngomongin ibu, ibu, dan segala euforia tentang hari ibu. 
Gue benci karena gue lagi terpisah jarak sama ibu.
Nggak bisa ketemu dan peluk dia di hari ibu. Memang sih bilang sayang dan peluk itu nggak cuma bisa dilakuin pas hari ibu, tapi kan hari ibu lebih ada feel-nya. 

Bu, aku kangen.
Kangen pelukan ibu, kangen masakan ibu, kangen rangkulan ibu kalau kita lagi jalan berdua. Kangen sabarnya ibu, kangen rempongnya ibu. Kangen cerewetnya ibu, kangen marahnya ibu. Kangen tawa renyahnya ibu. Kangen semuanya :(

Bu, maaf ya kalo aku jarang telpon. Aku jarang SMS. Maaf kalo kadang aku lupa sama ibu karena sibuk dengan segala rutinitas di sini. Maaf kalo kadang aku lupa nanyain keadaan ibu disana. Maaf kalo kadang aku lupa pas aku lagi seneng sama teman-temanku. 

Bu, maaf ya kalo aku kecewain ibu. Kalo ibu nggak puas dengan hasil perjuanganku. Kalo aku suka menghambur-hamburkan uang ibu untuk sesuatu yang nggak perlu. Kalo aku suka males-malesan. Kalo aku suka kebawa perasaan galau hingga akhirnya lupa belajar. Kalo aku sering jajan sembarangan. Kalo aku lupa minum obat. Kalo aku lupa makan buah. Kalo aku lupa untuk jaga kesehatan.

Bu, aku disini baik-baik aja. Aku sehat, dan sejauh ini tugas-tugasku nggak keteteran. Aku tetep inget buat minum obat, bu. Aku tetep inget buat mengontrol pengeluaran, bu. Aku tetep jaga diri dan selalu waspada. Aku tetep berusaha jadi perempuan tangguh yang berani menghadapi kejamnya hidup, bu. 

Bu, aku kangen ibu. Aku pengen pulang, bu. Sekarang. Pengen peluk ibu. Pengen nemenin ibu belanja ke pasar terus bantuin ibu masak. Pengen nemenin ibu jalan-jalan. Pengen bergosip sama ibu. Pengen curhat sama ibu.

Bu, maafin aku kalo aku kadang nggak dengerin perkataan ibu. Maafin aku yang nggak mau kontrol ke dokter gigi karena takut. Maafin aku yang suka maksa minta uang jajan tambahan tiap akhir bulan. Maafin aku yang selalu menuntut ibu untuk memenuhi semua kebutuhanku, bu.

Bu, aku sayang ibu. Aku nggak bermaksud buat kecewain ibu. Mungkin aku belum cukup dewasa untuk memahami apa yang ibu harapkan dari aku. Maafin aku yang sudah gede tapi masih kayak anak kecil ya, bu. Maafin aku yang sering cari perhatian sama ibu dengan ngelakuin sesuatu yang nggak ibu sukain. Maaf bu, maafin aku...

Bu, aku sayang ibu. Sayang banget. Aku janji aku akan terus kejar mimpiku. Semuanya demi ibu. Mungkin nggak akan cukup buat membalas jasa ibu yang sudah rawat aku selama hampir 20 tahun, tapi aku nggak punya apa-apa untuk membalas jasa ibu.

Bu, tetap bimbing aku buat melangkah di jalur yang tepat ya. Supaya aku nggak tersesat dan tetap dalam arahan ibu. Supaya aku bisa menggapai semua mimpiku dengan cepat. Supaya cepat juga aku membahagiakan ibu...

Bu, meski aku nggak dirumah sekarang, aku cuma mau ngucapin Selamat Hari Ibu. Ibu adalah perempuan paling tangguh yang pernah aku kenal. Ibu adalah perempuan paling sabar, perempuan paling hebat yang pernah ku temui. Bu, aku bangga memiliki ibu seperti ibu. Yang nggak pernah capek buat ngingetin anaknya, buat marahin anaknya kalo ada salah, buat maafin anaknya meski aku nggak minta maaf, buat menyemangati anaknya. 

Ibu terhebat di dunia :)
Maaf aku nggak bisa ngasi kado apa-apa buat ibu. Tapi aku janji, aku akan selalu mendoakan ibu. Aku akan selalu ingat dengan mimpiku yang akan kugapai...demi ibu :)

19.12.12

Kau Tak Tahu Rasanya

Kita teman dan saling mengenal, meskipun tidak terlalu dalam. 
Namun aku tidak pernah menyangka rasa itu datang. Merayap perlahan, dari mata yang hanya kagum akan paras, hingga akhirnya turun ke hati. Hingga rasa sayang dan ingin memiliki itu menggerogoti akal sehat. Hingga satu senyuman dan kerlingan mata sepintas pun menjadi hal yang sangat menyenangkan.

Kita teman dan saling mengenal, namun sering terpisah jarak.
Aku dan dirimu jarang berjumpa. Jika berjumpa pun amat jarang bertegur sapa. Senyuman indah untukku yang selalu kukagumi itu pun jarang terlihat. Jikalau aku melihatnya pun, senyuman itu kau lemparkan untuk orang lain, bukan untukku.

Kita teman dan saling mengenal, dan aku mencintaimu.
Aku selalu menantikan waktu dimana kita bisa saling berbincang. Aku selalu menantikan waktu ketika kita bisa bercanda dan saling bertukar senyum. 

Kau tak tahu rasanya,
ketika kau menatap tepat ke mataku. Ketika kau tersenyum kepadaku. Ketika aku tahu kau meluangkan waktumu hanya untuk menemuiku...

Kau tak tahu rasanya,
ketika dalam satu hari aku tidak melihatmu. Ketika dalam satu hari tidak ada kabar darimu. Ketika dalam satu hari aku tidak melihat matamu yang tajam dan senyumanmu yang indah.

Namun semua itu berubah menjadi rasa lega ketika aku melihatmu, meski dari kejauhan.

Kau tak tahu rasanya
mencintai orang yang kau sadari tidak akan pernah membalas perasaanmu. Mencintai orang yang hanya bisa kau pandangi dari kejauhan. Mencintai orang yang hanya bisa kau kagumi tanpa bisa kau ungkapkan. Mencintai orang yang hanya bisa kau rindukan. Mencintai orang yang hanya bisa kau tunggu namun tak kunjung datang...

Kau tak tahu rasanya
sakitnya mencintai dalam diam.

16.12.12

Unfair

Kadang gue merasa hidup itu ga adil

Kadang gue marah dengan waktu. Kadang gue marah sama nasib. Kadang gue marah sama orang-orang yang sebenarnya nggak pengen gue temui. Kalau gue tahu bakal seperti ini.

Gue kadang nyesel kenapa waktu mempertemukan kita. Kenapa harus lo? Kenapa harus orang seperti lo? Kenapa gue harus jatuh hati sama orang seperti lo? Orang yang bahkan nggak bisa gue jangkau? Orang yang  sangat jarang untuk sekedar senyum sama gue? Orang yang kayaknya nggak pernah menyadari keberadaan gue?

Gue kadang menyalahkan hati gue. Kenapa harus terlalu cepet jatuh hati? Kenapa harus jatuh? Kenapa harus berharap? Kenapa harus cepet gede rasa hingga akhirnya kecewa?

Gue emang terlalu nekat mengambil resiko untuk jatuh cinta lagi. Untuk sakit hati lagi. Untuk nggak dipedulikan lagi. Untuk nggak dianggap lagi. Untuk berharap lagi, dan terus berharap, hingga gue nggak ngerti sebenarnya apa yang gue harapkan dari lo.

Lo memang nggak tahu perasaan gue, karena semua salah gue yang jatuh cinta diam-diam. Tapi apa ada yang salah dari jatuh cinta diam-diam? Gue kan takut kalo lo ngejauhin gue karena gue sayang sama lo. Gue kan takut kalo lo nggak mau lagi berteman sama gue kalo lo tau ternyata gue sayang sama lo. Lagian gue gengsi. Nggak mau dianggap sebagai cewe yang ngemis cinta dan perhatian dari orang lain. Apalagi orang itu lo.


curahan hati yang mungkin juga dirasain sama banyak cewe lain di dunia ini. Nggak ada salahnya mempertanyakan semuanya. Meskipun kadang nggak ada jawabannya.

14.12.12

Memilihmu

Risha's


"You're on the phone with your girlfriend, she's upset
she's going off about something that you said"
You Belong With Me-Taylor Swift

Aku baru saja ingin berjalan menuju halte bus ketika hujan turun dengan derasnya. Aku pun mengurungkan niatku untuk bergegas dan memilih berteduh di sebuah convenient store dekat halte itu. Memesan secangkir kecil cokelat panas, dan memilih duduk di sudut ruangan sambil memandangi orang-orang yang lalu-lalang dan kehujanan di luar sana. AC yang berhembus membuat tubuhku sedikit merinding, dingin sekali. 

Aku mengambil iPod dari dalam tasku dan memasang headset. Aku membuka timeline Twitter, dan membaca beberapa tweet dari Keyla, sahabatku. Sepertinya dia sedang marah karena salah satu tweet-nya berbunyi : "Kalau sudah tidak mau pedulikan aku, aku pun bisa berlaku seperti itu padamu!" Keyla...Keyla. Kebiasaannya adalah menuliskan semua uneg-unegnya di Twitter. Bahkan jika ada masalah seperti ini, sepertinya dia memilih memperbarui tweet-nya dibandingkan berbicara denganku.

Bruk! Tiba-tiba ada seseorang yang meletakkan tas ranselnya di atas meja panjang itu. Aku menoleh. Ah, si Awan rupanya. Ia tidak langsung duduk di sebelahku, dan meneruskan bertelepon. Sepertinya ia sedang marah-marah. Aku pun teringat dengan tweet Keyla tadi dan menyimpulkan, oh Awan dan Keyla sedang bertengkar.

"Aku heran sama Keyla, Sha. Penyakit posesifnya nggak hilang-hilang," ujar Awan sambil geleng-geleng dan duduk di sebelahku. Aku menoleh kepadanya dan tertawa kecil.

"Dia sayang banget sama kamu, Wan. Wajar lah," jawabku sambil mengaduk-aduk cokelat panasku yang sudah mulai dingin. 

"Tapi aku mulai risih, Sha. Aku mau pergi ke rumah Dewita dilarang. Padahal kan aku mau buat laporan pertanggungjawaban, Sha. Ngapain juga aku macem-macem sama Dewita, bisa diserang Jeffry nanti," gerutu Awan. Ia membuka ponselnya dan diam sejenak. "Mana pakai acara nge-tweet, lagi!"

"Sabar, Wan. Keyla kangen sama kamu, mungkin. Dia kan lagi sibuk promo akhir-akhir ini, jadi mungkin dia stres. Apalagi ditambah dia jarang ketemu kamu, Wan," jawabku menenagkan Awan yang nampaknya sangat kesal.

Awan hanya mendesis. Aku berusaha memahami perasaan Awan yang seakan-akan tidak bisa 'bergerak' karena sifat posesif Keyla. Aku paham betul Awan mencintai Keyla, Keyla juga mencintai Awan. Hanya saja, sikap Keyla yang sulit percaya pada Awan ini yang mengganggu Awan.

"Coba kamu yang ngomong sama Keyla, Sha. Aku minta tolong banget. Aku sayang sama dia, aku juga tahu dia sayang aku, tapi sikapnya itu mengesankan kalau dia nggak percaya aku, Sha. Tolong ya," ujar Awan sambil menepuk bahuku. 

Aku mengiyakan permintaannya. Ini bukan pertama kalinya Awan meminta tolong pada diriku untuk menjadi 'jembatan' antara dirinya dan Keyla. Meskipun aku sudah sering menolak untuk ikut campur dengan urusan mereka, namun tetap saja, permintaan Awan maupun Keyla selalu membuatku tak kuasa menolak. Selama ini sih, segala upayaku untuk menjembatani hubungan mereka selalu berhasil dan tidak membawa dampak yang buruk bagi hubungan mereka. Namun, lama-lama aku jengah juga.

***

to be continued

11.12.12

Sorry

Sorry if I'm mean. Sorry if I hurt you. Sorry if my words annoy you. Sorry if all of my texts and chats disturb you.  Sorry if I'm wrong. Sorry if I'm not a good friend for you. Sorry if I can't stop myself to love you.

7.12.12

I Miss You, Mom :(

Di sini, di saat seperti ini
Di saat raga hampir menyerah, dan sendi terasa tak mampu bergerak
Aku membutuhkan sandaran
Aku membutuhkan pelukan hangat
Dan aku membutuhkan kecupan di kening yang menghilangkan penat
walau sesaat.

Di sini, di saat seperti ini
Saat hati sedang kalut karena kemelut
Saat lidah tak mampu menjelaskan semuanya
Dan hanya ada air mata yang mampu menjelaskan semua rasa

Di sini, di saat seperti ini
Aku rindu senyuman itu
Aku rindu tatapan itu
Aku rindu pelukan itu
Aku rindu segala tentangmu

Aku rindu candamu
Aku rindu caramu menegurku
Aku rindu caramu membimbingku
Aku rindu caramu memperhatikan tiap langkahku

Ibu.

30.11.12

When you're desperately missing someone and you don't know how to say it...it just hurts.

28.11.12

Please, I Want You (part 5)

Saat Wendy mengatakan hal itu, aku hanya bisa diam dan sejenak, tidak ada percakapan di antara kami. Aku merasa kesal, kesal sekali. Marah tepatnya. Marah karena aku menyadari Dinda, si cantik yang nyaris sempurna itu memiliki kesempatan yang besar untuk dimiliki Wendy. 

"Terus? Jadi...lo mau pacarin dia?" tanyaku setelah aku berhasil mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kata-kata dari kerongkonganku.

24.11.12

Loving You

Zurich, 20 November 2012

Kota ini masih sama. Masih cantik, masih sering diselimuti kabut abu-abu yang sangat romantis di mataku. Aku tidak pernah suka kembali ke kota ini. Kota ini terlalu banyak menyimpan kenangan bagiku. Tetapi, tanggung jawab akan tugas kantor yang mengharuskan aku bekerja di sini selama dua tahun ke depan, membuatku berusaha keras untuk melupakan kenanganku.

Gemericik air hujan masih menumbuk-numbuk jalanan kota Zurich sore ini. Hujan mengguyur kota yang cantik ini sejak dua jam yang lalu, dan kini menyisakan hawa dingin dan semburat kelam di langit. Aku memeluk cangkir berisi cokelat panas sambil menerawang ke arah jendela kafe ini. Langit sore ini mengingatkanku pada hari itu. Mengingatkanku pada perpisahan yang menyakitkan itu. Mengingatkanku pada Stephen.

***

23.11.12

Please, I Want You (part 4)

Hari-hari kulalui dengan tidak biasa setelah obrolanku dengan Vindy siang itu. Aku terus-menerus memikirkan dan menimbang-nimbang apakah perlu aku mengungkapkan perasaanku pada Wendy. Aku masih belum punya cukup keberanian (kenekatan, tepatnya) untuk mengungkapkan perasaanku. Aku belum siap dengan kemungkinan jika Wendy memberikan respon yang menyakitkan. Ah, jangan sampai!

Sementara itu, Wendy masih sering mengajakku pergi. Nonton film, makan siang, atau sekadar mengajakku ke studio musik tempat ia biasa berlatih dengan band-nya. Sebenarnya tidak jarang juga aku menolak ajakannya dengan berbagai alasan, dari alasan paling masuk akal sampai alasan tidak penting seperti "Maaf, Wen, gue mau bersih-bersih kamar." sudah kukemukakan, tetapi Wendy selalu punya cara untuk meruntuhkan pertahananku. Entahlah, aku belum lama suka sama dia, tetapi kenapa pertahananku bisa diruntuhkannya dengan mudah. Bahkan saat aku belum yakin dengan perasaanku, apakah aku benar-benar tulus mencintainya, atau aku hanya terobsesi untuk memilikinya.

Cinta memang membuat diriku sering bertindak bodoh.

***

22.11.12

Please, I Want You (part 3)

Sudah beberapa hari berlalu sejak obrolanku dengan Wendy di kantin waktu itu. Aku berusaha untuk menjaga jarak dengannya karena aku tidak mau dia menjadikanku sahabatnya, dimana hal itu akan membuatku kehilangan kesempatan untuk memilikinya. Ya, sebelum kami meninggalkan kantin waktu itu, ia sempat berkata bahwa apa yang dikatakan ayahnya benar. Tetapi, ia berkata bahwa Dinda adalah pengecualian baginya. Dasar kepala batu, batinku. Aku berharap Dinda tidak akan pernah mau membalas cintanya sampai kapanpun, karena aku tahu cuma aku yang layak ia cintai, bukan Dinda!

Namun, usahaku untuk menghindari Wendy tampaknya tidak berjalan mulus. Wendy justru sering mengajakku pergi bareng, hanya sekadar minum kopi di kafe dan mengobrolkan hal-hal kecil di kehidupan kami. Awalnya aku senang karena aku banyak punya waktu dengan dia (dan sempat kepikiran bahwa ini adalah usaha dia untuk mendekatiku), tetapi gara-gara Vindy mengingatkanku tadi siang aku jadi menyadari satu hal.

21.11.12

SHOUTS OF MIND

"Mencintaimu itu seperti candu.

Ya, membuatku ingin lebih dan lebih, meskipun aku tahu bahwa candu itu akan membuatku sakit. Akan membuatku menderita. 
Awalnya manis, dan sangat menggiurkan. Namun pada akhirnya, semua itu akan merusak ragaku."

"Aku mencintaimu dengan syarat.

Omong kosong jika orang berkata bahwa cinta yang indah adalah cinta tak bersyarat. Aku tidak sependapat. Karena aku mencintaimu dengan syarat. Hanya satu syarat: jangan tinggalkan aku."

"Aku telah jahat pada diriku sendiri.

Semua karena aku bersikeras untuk mencintaimu. Meskipun aku tahu mencintaimu akan membuatku lelah dan kau tidak akan pernah membalas cintaku."

"Kau akan kuingat selalu.

Aku mungkin akan lupa dengan memori kita ketika aku menua, tapi percayalah, aku tidak akan pernah lupa dengan dirimu."

"Kau memori manis yang kusimpan rapat dalam sangkar emas di hatiku.

Dirimu terlalu menyakitkan untuk dikenang. Namun terlalu manis untuk dilupakan..."

Please, I Want You (part 2)

Aku mengejar Wendy yang sudah berjalan menuju kantin di sayap kanan kampus kami. Aku menjejeri langkahnya dan menawarkan bantuan untuk membawakan sebagian benda yang ia bawa, tapi ia menolaknya.

"Eh Ta, gue mau cerita sama lo. Gue pengen minta pendapat lo," ujar Wendy tiba-tiba.

"Cerita apa, Wen? Kepo nih gue!" seruku antusias.

"Udah entar aja sambil makan. Yuk cepet, udah mau jam 12."

Aku pun mempercepat langkahku dan tidak lama kemudian kami sampai di kantin. Aku langsung mengambil tempat duduk di pojok kanan kantin yang agak sepi dan tersedia meja kecil dengan dua kursi yang berhadap-hadapan. Ah, nice place,batinku. Setidakya aku bisa merasa lebih dekat dengan Wendy.

Tak lama kemudian Wendy datang membawa dua piring nasi goreng dan dua gelas es jeruk yang kelihatan sangat menggoda. Wendy meletakkan makanan dan minuman di meja, kemudian duduk di hadapanku. Ia terlihat termenung sejenak sebelum akhirnya mulai menyantap nasi goreng di hadapannya.

"Tadi malam gue dapat nasihat dari bokap gue, Ta," ujar Wendy memulai pembicaraan.

"Hmm, nasihat apa?"

"Jadi gini," Wendy mengunyah makanannya kemudian meneguknya. "Lo tau lah ya kalo gue udah lama suka sama Dinda,"

"Terus?" Duh. Nama itu lagi yang disebut. Aku sudah muak dengan cerita Wendy tentang Dinda.

14.11.12

Please, I Want You (Part 1)

Aku memang orang yang sulit melupakan masa lalu, tapi Alex adalah pengecualian bagiku. Entahlah, aku mudah sekali melupakan dia. Mungkin ini karena dulu aku yang memutuskannya, jadi aku merasa lebih bertanggung jawab dengan perasaanku. Tapi melihat status Facebook-nya tadi siang benar-benar menohok dadaku.

Alex menuliskan status yang intinya menyesal pernah bertemu denganku. Dia menuliskan di statusnya bahwa ia sangat kesal dengan dirinya sendiri karena telah menghabiskan waktunya dengan orang yang tidak pantas dicintai sepertiku. Meskipun dia tidak menuliskan namaku di statusnya, tetapi aku tahu status itu ditujukan padaku. Ya, setidaknya instingku mengatakan begitu.

Gara-gara membaca status Facebook Alex, aku jadi kesal sendiri. Bahkan ketika aku harus membuat handmade poster untuk acara bakti sosial minggu depan saja aku tidak konsentrasi. Aku tidak bisa bekerja dengan tenang, meskipun ada Wendy yang membantuku membuat poster itu.

13.11.12

How to Make Organic Compost

Okay, maybe some of you think that this post is such a random post, but for sure I write this because this is worth to share. Yeahm gue akan nulis tentang cara membuat PUPUK ORGANIK. Are you readeeeeh?? Olret. I love you, guys *tebar cium jauh* *digampar massa*

Cinta Ibu selalu Ada untuk Kita

"Bu, aku mau ikut camping sama anak-anak Pramuka, ya," ujar Sasti seraya meletakkan piring kotor di tempat cucian piring. Sementara ibunya sedang sibuk memotong-motong wortel di sebelahnya.

"Kamu kok akhir-akhir ini sering pergi sih, Sasti? Kamu nggak capek? Minggu depan kamu ujian semester lho," ibu masih asyik dengan pekerjaannya.

Sasti mendengus kesal. "Ah ibu. Kan camping nggak seminggu sekali bu. Lagian kemarin waktu camping di bumi perkemahan Sasti udah nggak ikut. Sasti kan nggak enak sama Kak Fendy, Bu. Ntar Sasti dikira bukan ketua yang bertanggung jawab."

Ibu menghentikan kegiatannya. Iya berbalik dan menatap Sasti yang sudah menunjukkan muka bete.
"Coba kamu ingat-ingat, dalam seminggu ini kamu berapa jam ada di rumah? Hampir tiap hari kamu pergi. Mending kalau kamu pergi belajar sama teman-teman kamu. Lha ini, kamu pergi buat nonton basket, lah, nongkrong, lah, main di rumah Thiyya, lah...."

"Ah ibu! Coba liat Thiyya, Icha, Dea, semuanya fine-fine aja kalau pergi tiap hari! Dulu Mbak Ayu juga selalu ibu izinin kalau pergi kemana-mana!" Sasti membantah perkataan Ibunya.

"Sasti..." sedikitpun Ibu tidak marah dengan perkataan Sasti. "Mbak Ayu dulu selalu ibu izinin karena ibu tahu dia nggak selalu terima ajakan temannya untuk pergi. Dia berani menolak. Beda sama kamu, yang selaluuuuuu aja ikut apa kata teman kamu. Kalau teman kamu masuk sumur, kamu mau masuk sumur juga?" tanya Ibu sambil memegang bahu Sasti.

Sasti terdiam. Terlalu banyak kata 'tapi' di kepalanya, tapi ia berusaha untuk menahannya. Ia menarik napas panjang. "Ibu kenapa sih selalu bandingin Sasti sama mbak Ayu?"

"Sasti, ibu nggak bandingin kamu. Ibu cuma pengen kamu liat kakakmu itu. Dia punya pendirian. Dia nggak labil seperti kamu. Ibu paham usia kamu memang usia dimana anak dalam keadaan labil-labilnya. Tapi setidaknya kamu bisa belajar dari kakak kamu, Sasti," Ibu membelai rambut Sasti dengan lembut.

"Sasti, kamu tahu kan Mbak Ayu sudah pergi merantau. Bapak juga cuma bisa pulang seminggu sekali. Ibu bukannya ingin kamu bantu ibu jaga Agum sama Putri, atau bantu ibu ngurus rumah. Ibu cuma ingin kamu punya waktu untuk keluargamu, Sasti. Untuk Ibu,"

Sasti terdiam. Kemudian menunduk pelan. Kata-kata Ibu begitu menusuk dadanya. Ia sadar, selama masuk SMP, ia jadi anak yang suka keluyuran dan jarang di rumah. Ia sadar bahwa selama ini ia kurang memiliki waktu dengan Ibu dan adik-adiknya. Bahkan di akhir pekan, ketika Bapak pulang, ia pun sering meninggalkan rumah. Tiba-tiba Sasti merasakan air mata membasahi pipinya. Ia mengangkat wajahnya memandang wajah lelah ibunya. Wanita berusia 45 tahun itu tersenyum padanya. Sorot matanya begitu teduh, mendinginkan hati Sasti yang tadi sempat panas.

"Maafin Sasti, Bu," Sasti memeluk ibunya erat. Ibu balas memeluknya dengan lembut sambil mengacak-acak rambut Sasti. "Sasti janji, Sasti bakal belajar untuk punya pendirian yang teguh,"

"Ibu percaya kamu punya keberanian untuk membantah temanmu, Sasti. Kamu hanya takut kehilangan mereka. Percaya sama Ibu, teman-temanmu nggak akan ninggalin kamu hanya karena kamu menolak ajakan mereka," Ibu menepuk lembut pipi Sasti. Sasti tertawa kecil.

"Jadi, Sasti boleh ikut camping nih, Bu?" tanya Sasti.

Ibu tersenyum. "Untuk kali ini, boleh, Sasti."

Sasti memeluk Ibunya sekali lagi. Tiba-tiba ia merasakan hangat menjalar di dadanya. Ah, ia sadar. Hangat cinta ibu selalu mengalir di darahnya.

11.11.12

You're Just Another Picture to Burn!

I've just downloaded this song and listen to the lyrics. And yeah, suddenly I remember you. Suddenly I remember how fool I was. I lay my heart to person like you, who never treat me well. I realize how fool I am that you always have a place in my heart, that I always have a time for you, that I always let you to lay in my shoulder when you're sad. How fool I am that I realize you never treat me like I treat you. I realized I've wasted my time with someone like you. Ha, NOW GO AWAY FROM ME. You're just another picture to burn.

Memorize

Malam ini galaunya ga kira-kira.
Semua ini gara-gara gue jomblo muter lagu-lagu yang memorizing. Jump Then Fall-Taylor Swift, Yesterday-The Beatles, You Belong With Me-Taylor Swift, plus dua lagu jahanam yang bikin bibir pengen mewek: One and Only sama Don't You Remember-nya mbak Adele. Duh, salah banget muter lagu-lagu kaya gini di malam minggu.

Ini karena gue nggak mendengarkan lagu karena penyayinya cantik/cakep, suaranya bagus, atau musiknya enak didengar. Gue mendengarkan lagu kalau lagu itu liriknya bagus dan gue punya kenangan sama lagu itu. Jadi, semua lagu yang gue taro di playlist malam ini tuh punya kenangan lho. Nih gue sebutin satu-satu ya.


Aku Mencintaimu dalam Diam

Aku mencintaimu dalam diam
Tak pernah mengungkapkannya, tak pernah menunjukkannya.
Aku mencintaimu dalam diam
Tak pernah membiarkanmu mengetahuinya, tak pernah membiarkanmu membalasnya.

Aku mencintaimu dalam diam
aku tidak ingin kau mengetahuinya.
Bukan karena aku tidak sanggup untuk mengungkapkan
tetapi aku tahu, kau akan meninggalkanku jika kau mengetahuinya

Aku mencintaimu dalam diam
aku tidak ingin memilikimu.
Bukan karena aku malu
tetapi karena aku terlalu takut untuk menjaga seseorang yang berharga seperti dirimu.

Aku mencintaimu dalam diam
karena aku tahu
kau tidak akan pernah mengetahuinya
kau tidak akan pernah membalasnya
kau tidak akan pernah merasakan cinta yang sama
karena aku tahu
aku bukanlah orang yang kau cinta.



*an old poem i wrote in my diary at May 12, 2008. This poem is based on my own story.

Image taken from here

9.11.12

Happiness :)

Mungkin sebagian orang merasa bahwa hidupnya belum bahagia kalau dia belum mencapai apa yang dia inginkan. Baik itu urusan karier, pendidikan, atau percintaan. Pendidikan tinggi, karier mapan, tapi belum punya pasangan, belum bahagia katanya. Pendidikan tinggi, punya pasangan, tapi belum sampai puncak karier, belum bahagia katanya. 

Ngomong-ngomong soal bahagia, setiap orang pasti punya standar kebahagiaan yang beda-beda. Ada orang yang kalau sudah mencapai semua impiannya baru bahagia, ada juga kalau udah mencapai dua atau tiga impiannya udah cukup bahagia. 

6.11.12

Aku Sayang Mas Rio

Kalau kalian nanya sama gue siapa cowo yang paling gue sayang di dunia, gue pasti akan jawab gue punya 2 orang cowo yang paling gue sayang di dunia ini. Yang pertama adalah bokap gue sendiri, dan yang kedua adalah adik kedua gue yang namanya Rio.

Gue bukannya ga sayang sama dua adek gue lainnya, Ajeng sama Fio. Tapi karena Rio cowo sendiri, jadi gue demen banget main sama dia hahaha. Dan dia juga manjaaaaa banget sama gue. Kalau gue pas pulang kampung, dia ga mau tidur kalo ga sama gue. Pokoknya mau tidur harus dipeluk sama gue. Ya ampun owit banget ga siiiih :3

Udah gitu, dia ini punya banyak keunikan loh. Hobi dia itu baca, dan kalau gue bilang baca disini adalah BACA APAPUN! Komik, buku pelajaran, koran, sampai kamus pun hobi dia baca. Makanya kadang dia suka nanya-nanya hal-hal yang dia dapat dari bacaannya dia, padahal ga semua anak seumuran dia bakalan nanyain hal kaya gitu. Misalnya, ini salah satu pertanyaan yang pernah dia ajukan ke nyokap gue:

"Bu, harga diri itu apa? Harga diri kita berapa?"

Nyokap gue hanya bisa melongo dan bingung mau jawab apa.

2.11.12

Bersyukurlah, Maka Bahagia Akan Datang :)

Kita sebagai manusia terkadang terlalu sibuk memenuhi keinginan kita, meskipun kebutuhan kita sudah terpenuhi, bahkan lebih dari cukup. Kita sudah punya nasi beserta lauknya, kita masih mencari roti untuk dicemil. Kita sudah punya baju yang masih bagus dan layak pakai, tetapi kita masih sibuk memenuhi isi lemari kita dengan banyak baju baru. Tetapi, kadang kita lupa bahwa banyak sekali orang di luar sana yang bahkan memenuhi kebutuhan dasarnya pun tak mampu. Atau, mereka harus banting tulang dari fajar hingga malam untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan kita, tinggal meminta ke orang tua saja. 

Saya juga baru menyadari kalau selama ini saya sangat kurang mensyukuri hidup saya. Saya selalu membeli barang-barang yang sebenarnya tidak begitu saya perlukan, dan akhirnya jadi mubazir. Saya juga terlalu hobi  menghambur-hamburkan uang orang tua saya untuk sesuatu yang saya inginkan. Tetapi, kejadian yang saya lihat beberapa hari yang lalu membukakan mata saya bahwa hidup saya sudah sangat lebih dari cukup untuk disyukuri.

27.10.12

Janji Pada Diri Sendiri

Awalnya pagi ini saya berniat untuk mengerjakan review teori komunikasi 2 chapter yang akan dikumpulkan tanggal 19 november nanti. Kenapa saya mengerjakannya sekarang? Karena eh karena mulai tanggal 15 saya akan sibuk dengan kegiatan kampus sampai tanggal 16 sore, dan tanggal 17-18 saya ada acara makrab dengan teman-teman satu prodi. Dan tanggal 19 itu saya harus mempresentasikan teori penetrasi sosial. Dan mulai tanggal 1 november, UTS sudah dimulai. Jadi intinya itu review teori komunikasi harus segera selesai kalau saya tidak mau keteteran mengerjakannya.

Tapi seperti kebiasaan saya, saya selalu mengerjakan tugas dengan jendela browser yang juga terbuka. Biasalah, saya orangnya cepat bosan dan biasanya kalau sudah mabok sama tugas yang saya kerjakan, saya balik ke jendela browser. Like I'm doing right now hehehe.

Saya blogwalking ke beberapa blog dan menemukan sebuah post yang isinya resolusi dia di usia 20 tahun beserta keterangan apakah resolusi itu sudah tercapai apa belum. Seketika satu pertanyaan muncul di kepala saya, apakah saya pernah membuat resolusi seperti ini dan kemudian mewujudkannya?

Tiba-tiba saya galau. Saya merasa seperti manusia yang tidak memiliki tujuan *nangis*

Mungkin saya memiliki beberapa impian dan tujuan yang akan saya capai selama saya hidup, tapi entah kenapa saya tidak terlalu menfokuskan diri kesana. Saya lebih fokus pada apa yang akan saya lakukan hari ini. Ya, saya bukan tipikal visioner yang sudah merancang masa depan dengan baik. Tapi bukan berarti saya tidak memiliki tujuan dalam hidup. Hanya saja, bodohnya, saya tidak fokus pada itu. Maafkan aku, diriku :(

Oke. Saya akan menuliskan tujuan hidup saya disini. Saya jadikan ini sebagai pengingat bahwa saya punya tujuan yang harus saya kejar. Untuk sepuluh tahun ke depan, saya ingin:

23.10.12

Terjebak di Masa Lalu

Jadi beberapa waktu yang lalu saya beli tabloid Nova (ya walaupun saya masih kuliah semester 3, saya suka tabloid Nova yang notabene tabloid emak-emak. Eh tapi jangan salah, isinya menarik kok!). Di tabloid itu ada rubrik namanya konsultasi grafologi. Ini adalah salah satu rubrik favorit saya. Di rubrik ini biasanya orang pada ngirim surat yang ditulis pakai tulisan tangan untuk dianalisis sama pengasuh rubriknya. Lumayan sih jadi bisa menilai orang lewat tulisannya karena suka baca rubrik ini :))

Nah, di Nova 2 minggu yang lalu, saya membaca bahwa ada keterkaitan antara jarak kata pertama ke pinggir kertas dengan kecenderungan seseorang untuk terjebak di masa lalu. Kira-kira kaya begitu deh. Intinya, kalau orang mulai menulisnya itu dempet sama pinggiran kertas sebelah kiri, orang ini banyak mengingat masa lalunya dan biasanya ia ingat akan detil kejadian yang pernah ia alami di masa lalu. Kalau jaraknya ga mepet, kebalikannya. Nah, intinya kalau orang mulai menulisnya itu dempet sama pinggir kertas, orangnya tuh susah move-on.

2.5.12

When you love someone, but....

I think it's normal if a girl wants a prince to be her fiance. I think every girl in this world wants a charming prince, with handsome face, good manner, who lives for their girl. 

So do I.

I have someone in my life now but I think he's not for me. Yeah I know that it seems impossible to get a perfect prince like a story in fairy tale, but I know someone deserves to be mine. But, someone who fills my days with these anxious care never makes me safe and comfort. I just........never feel comfort when I'm with him. We have broken up but we try to built our relationship from the very start, without any status. At that time, I hoped that it would be more suitable for me, but actually...it isn't.

I don't know what i feel to him. Sometimes I get mad when I know he's flirting with another girl, but sometimes I dont want him to be there for me.

I know he loves me with all his life, but I realized that the longer he stays with me, the more he will be hurt. I know I've never love him well. I know I'm not a right girl for him. 

Maybe it caused by a story behind us. A story that never revealed. An untold story. I feel too afraid if he knows it. I feel too afraid to hurt his feeling. But  I realized that the longer I keep this, it will hurt his feeling.

I will tell him, reveal it, as soon as possible. Maybe this could be an proof, that I love him, maybe :)

30.1.12

Greet from the Author :)

hello, gue Fauziah. Gue bukan orang baru didunia per-blogging-an, gue udah mulai ngeblog tahun 2010, tapi entah kenapa gue udah eneg sama blog gue yang ini , jadi gue memutuskan untuk membuat blog baru. Oh ya, kenapa gue buat blog lagi, karena eh karena gue mau improve kemampuan menulis gue sih, masa anak komunikasi ngga pinter nulis kan enggak banget, ye gak? *apaan sih*

so keep in touch! follow ya jangan lupa ;)