Malam ini langit tidak secerah biasanya. Ada selaput tipis mendung yang mengajak angin untuk bermain-main dan menciptakan hawa dingin. Tapi, Dio mengajak Disha untuk tetap naik ke atas atap rumah beberapa jam sebelum hari ini berakhir.
Ini sebenarnya ritual biasa. Hampir setiap malam minggu, mereka berdua menghabiskannya di atas atap rumah mungil mereka. Namun malam ini tidak biasa. Sudah seminggu belakangan mereka tidak bicara satu sama lain, karena kesibukan masing-masing.
Dio selalu berangkat ke kantor sebelum Disha bangun, dan pulang ke rumah ketika Disha sudah terlelap selama seminggu belakangan ini. Tidak ada waktu bagi mereka untuk sekedar menyantap sarapan bersama. Bahkan, Disha yang biasanya selalu menyiapkan pakaian kerja Dio setiap pagi, selalu kehilangan momen itu karena Dio sudah pergi ke kantornya bahkan sebelum adzan subuh terdengar. Dio hanya meninggalkan secarik post-it yang ia tempelkan di jam weker, berisi ucapan maaf karena tidak membangunkan Disha untuk pamit. Itu yang Dio lakukan setiap pagi.
Dio hanya tidak mengetahui bahwa setiap tengah malam Disha terbangun untuk menyelimuti tubuhnya. Ia juga tidak pernah tahu bahwa Disha mencium keningnya setiap malam dan membisikkan kata 'I love you' di telinga Dio saat Dio terlelap. Dio tidak tahu bahwa Disha sangat merindukan dirinya. Aneh memang, mereka tinggal serumah, namun tidak pernah ada kesempatan bagi Disha untuk melepas rindu, meski hanya sekejap.
Dio menyandarkan punggungnya di bagian atap yang sedikit curam. Berbantalkan telapak tangannya, Dio menatap langit yang mulai mendung. Disha duduk di sampingnya memeluk lutut, berharap hal itu bisa mengurangi hawa dingin yang mulai menusuk tulangnya.
Mereka tidak berbicara. Keduanya terperangkap dalam keheningan. Hanya desau angin yang mengisi keheningan di antara mereka.
Dalam situasi sehening ini, kau seharusnya bisa mendengarkan suara yang mendengung di kepalaku. Suara inginku. Batin Disha. Inginku sederhana. Berbicara denganmu di malam hari saat menyambutmu pulang. Aku merindukan pillow talk sebelum tidur yang setiap hari kita lakukan. Tapi belakangan ini, kita semakin jauh. Apakah kamu tidak mengerti bahwa aku merindukan kamu? Aku merindukan kita?
Namun mereka hanya diam. Dio masih memandangi langit tanpa berkata apa-apa. Padahal, biasanya ia paling bersemangat jika membahas langit--mulai dari warnanya, benda-benda yang ada di sana, bahkan berkhayal jika ada 'bumi' lain di salah satu galaksi yang ada di sana.
"Disha..." panggil Dio. Ia menarik tangan Disha dan membuat Disha harus mundur sedikit dari tempatnya duduk. Kini mereka berdua bersandar di atap yang sama, namun mata mereka masih tidak bertemu.
Tangan kanan Dio menggenggam tangan kiri Disha perlahan. "I miss you. I miss us. I miss our time..." bisik Dio di telinga Disha.
Genggaman tangan Dio semakin erat. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Disha, dan mengecup kening Disha dengan penuh kasih.
"Me too, Honey," jawab Disha, menatap wajah lelaki yang paling dikasihinya itu.
Tak ada yang bisa Disha ucapkan selain itu. Kebahagiaan telah mengunci lidah Disha untuk berkata lebih banyak lagi. Ucapan rindu dari dari Dio, bukan pillow talk seperti biasanya, sudah membuatnya sangat bahagia. Genggaman tangannya sudah cukup membuat Disha merasa sangat nyaman berada di sisinya.
Dan senyuman Disha saat ini, membuat Dio merasa jatuh cinta pada wanita itu untuk ke sekian kalinya.
***
250913