25.9.13

Di Bawah Langit Malam Ini


Malam ini langit tidak secerah biasanya. Ada selaput tipis mendung yang mengajak angin untuk bermain-main dan menciptakan hawa dingin. Tapi, Dio mengajak Disha untuk tetap naik ke atas atap rumah beberapa jam sebelum hari ini berakhir.

Ini sebenarnya ritual biasa. Hampir setiap malam minggu, mereka berdua menghabiskannya di atas atap rumah mungil mereka. Namun malam ini tidak biasa. Sudah seminggu belakangan mereka tidak bicara satu sama lain, karena kesibukan masing-masing. 

Dio selalu berangkat ke kantor sebelum Disha bangun, dan pulang ke rumah ketika Disha sudah terlelap selama seminggu belakangan ini. Tidak ada waktu bagi mereka untuk sekedar menyantap sarapan bersama. Bahkan, Disha yang biasanya selalu menyiapkan pakaian kerja Dio setiap pagi, selalu kehilangan momen itu karena Dio sudah pergi ke kantornya bahkan sebelum adzan subuh terdengar. Dio hanya meninggalkan secarik post-it yang ia tempelkan di jam weker, berisi ucapan maaf karena tidak membangunkan Disha untuk pamit. Itu yang Dio lakukan setiap pagi.

Dio hanya tidak mengetahui bahwa setiap tengah malam Disha terbangun untuk menyelimuti tubuhnya. Ia juga tidak pernah tahu bahwa Disha mencium keningnya setiap malam dan membisikkan kata 'I love you' di telinga Dio saat Dio terlelap. Dio tidak tahu bahwa Disha sangat merindukan dirinya. Aneh memang, mereka tinggal serumah, namun tidak pernah ada kesempatan bagi Disha untuk melepas rindu, meski hanya sekejap.

Dio menyandarkan punggungnya di bagian atap yang sedikit curam. Berbantalkan telapak tangannya, Dio menatap langit yang mulai mendung. Disha duduk di sampingnya memeluk lutut, berharap hal itu bisa mengurangi hawa dingin yang mulai menusuk tulangnya.

Mereka tidak berbicara. Keduanya terperangkap dalam keheningan. Hanya desau angin yang mengisi keheningan di antara mereka. 

Dalam situasi sehening ini, kau seharusnya bisa mendengarkan suara yang mendengung di kepalaku. Suara inginku. Batin Disha. Inginku sederhana. Berbicara denganmu di malam hari saat menyambutmu pulang. Aku merindukan pillow talk sebelum tidur yang setiap hari kita lakukan. Tapi belakangan ini, kita semakin jauh. Apakah kamu tidak mengerti bahwa aku merindukan kamu? Aku merindukan kita? 

Namun mereka hanya diam. Dio masih memandangi langit tanpa berkata apa-apa. Padahal, biasanya ia paling bersemangat jika membahas langit--mulai dari warnanya, benda-benda yang ada di sana, bahkan berkhayal jika ada 'bumi' lain di salah satu galaksi yang ada di sana.

"Disha..." panggil Dio. Ia menarik tangan Disha dan membuat Disha harus mundur sedikit dari tempatnya duduk. Kini mereka berdua bersandar di atap yang sama, namun mata mereka masih tidak bertemu.

Tangan kanan Dio menggenggam tangan kiri Disha perlahan. "I miss you. I miss us. I miss our time..." bisik Dio di telinga Disha.

Genggaman tangan Dio semakin erat. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Disha, dan mengecup kening Disha dengan penuh kasih. 

"Me too, Honey," jawab Disha, menatap wajah lelaki yang paling dikasihinya itu. 

Tak ada yang bisa Disha ucapkan selain itu.  Kebahagiaan telah mengunci lidah Disha untuk berkata lebih banyak lagi. Ucapan rindu dari dari Dio, bukan pillow talk seperti biasanya, sudah membuatnya sangat bahagia. Genggaman tangannya sudah cukup membuat Disha merasa sangat nyaman berada di sisinya.

Dan senyuman Disha saat ini, membuat Dio merasa jatuh cinta pada wanita itu untuk ke sekian kalinya.

***
250913





18.9.13

Saat ini, lagu-lagu yang dulu didengarkan sekitar pertengahan 2010 hingga hampir akhir 2010 sedang mengalun merdu di kamar kos ini. Ditemani secangkir teh hangat, dan aroma pengharum ruangan yang sama seperti di rumah pada waktu itu. Dan seketika, memori itu bangkit. Seperti film yang sedang di putar entah di bagian kepala yang mana. Terlihat jelas di depan mata, seakan mengalaminya sekali lagi. Dan ini, merupakan puncak hari ini. Dan memori ini, semuanya mengingatkan pada satu orang. Kamu.

Untuk Kamu

Untuk kamu,

Aku masih ingat ekspresi wajahmu ketika kamu menolongku mengikatkan tali sepatuku. Ketika di hari itu pula, kamu duduk di sebelahku ketika makan siang, dan terus mencoba mengikutiku kemanapun aku pergi. Ketika hari itu kamu memboncengku melewati jalanan terjal dan sepi di sore 17 April itu.

Aku masih mengingatnya dengan jelas.

Ketika sesampainya di sekolah kamu masih harus mengikuti audisi untuk penampilan di pensi sekolah keesokan harinya. Dan kamu mengabariku dengan raut wajah senang ketika kamu berhasil lolos audisi, meskipun aku tahu kamu sedang sangat lelah.

Untuk kamu,

Tahukah kamu, aku masih bisa mengingat sikapmu yang kunilai manis untukku
Ketika kamu mengoreksi bedakku yang terlalu tebal
Ketika kamu memboncengku sepulang sekolah. Dan kamu tidak memakai helm. Melajukan motorku dengan kecepatan tinggi dan membuatku harus memeluk pinggangmu erat-erat. Kamu sengaja, ya? Dasar!

Ketika di lain waktu, kamu menjemputku untuk latihan band, dan lagi-lagi mengemudikan kendaraanmu dengan kecepatan tinggi. Membuatku berteriak lepas karena takut dan gemas dengan tingkahmu. "Anggap saja itu tadi roller coaster." Itu alasanmu setiap kali kamu memboncengku dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi.

Ketika kamu menyeka noda krim kue yang teman-teman oleskan di wajahku, ketika hari ulang tahunku.
Ketika kamu menyeka air mataku yang sebenarnya jatuh karenamu. Karena aku yang baru saja menyatakan perasaanku di hari terakhir kita bertemu. Dan kamu hanya berkata, "aku sudah tahu."

Untuk kamu,

Kamu yang pernah menjadi alasanku untuk pergi ke sekolah dengan semangat menggebu
Kamu yang pernah menjadi alasanku untuk belajar berdandan dan mempercantik diri
Namun kamu juga yang berkata, "wajahmu terlihat lebih manis jika seperti ini." saat kamu datang ke rumahku pagi itu
Kamu yang dengan setia memberikan tumpangan ke sekolah ketika aku baru saja mengalami kecelakaan
Kamu yang setia menemaniku pulang setelah latihan hingga larut malam

Untuk kamu,

Kamu yang sudah menemukan pengisi hatimu
Kamu yang sudah menemukan jawaban atas segala mimpimu
Kamu yang mungkin sudah lupa dengan segala hal manis yang pernah kita lalui bersama

Aku merindukanmu. 

Meski aku tahu, aku tak sepantasnya begitu.

16.9.13

if you love someone, SAY IT, don't wait until cows could fly to the moon.