1.12.13

Sesal


Dira melirik jam yang digantung di dinding kamarnya. Sudah jam 8 pagi. Dira menguap dan mematikan drama Korea yang ia tonton dari laptopnya sejak tadi malam. Ia mengambil cermin kecil di meja laptopnya, dan melihat matanya yang bengkak.
“Duh Dira... Kalau nonton jangan bawa perasaan dong. Sudah berapa kali nangis nih dalam semalem,” gumamnya sambil memandangi wajahnya di cermin itu.
Ia kemudian beranjak dan berjalan menuju pintu kamarnya. Ia membuka pintu dan ternyata di depan kamarnya sudah berdiri Mbak Inah dengan sebuah paket di tangannya.
“Eh, neng Dira... Baru aja saya mau ngetuk pintu. Ini, ada kiriman,” ujarnya seraya menyerahkan paket itu pada Dira.
“Dari siapa, Mbak?” tanya Dira.
“Eh... Dari teman neng Dira yang ganteng itu... Mas Hanung. Dia tadi pagi kesini, pagi banget, Neng. Tapi dia nggak mau masuk ke dalam rumah karena dia tahu Neng Dira pasti belum bangun,” jawab Mbak Inah.
Hanung? Tumben, batin Dira. Dira pun mengangguk dan menerima paket itu. Ia kemudian kembali masuk ke kamarnya dan membuka paket itu. Ia bertanya-tanya apa sebenarnya yang dikirimkan Hanung. Dibilang buku, terlalu tipis. Baju, mana mungkin. Sebelum membuka paket itu, ia mengecek telepon genggamnya, mencoba mencari tahu apakah Hanung memberi kabar tentang paket itu. Tetapi, hasilnya nihil.
Dira pun membuka paket itu dengan tidak sabar. Di dalamnya, ada bungkusan ungu dengan hiasan pita emas diluarnya. Perasaan Dira langsung tidak enak. Ia kemudian melepas ikatan pita itu dan  membuka bungkusan ungu itu.
“Hanung pasti bercanda nih. Mana mungkin sih? Kenapa dia nggak cerita sama sekali ke gue...” batin Dira.

**

Untuk Hanung, sahabat rekatku yang paling kusayangi, 
            
Ketika kau membaca surat ini, mungkin aku sedang duduk di bangku taman di pinggir jalan yang sudah mulai tertutup salju. Ya, musim dingin telah tiba dan seperti yang kau tahu, ini pertama kalinya aku merasakan musim dingin. Sekali lagi aku berterima kasih atas mantel panjang berwarna merah yang kau berikan padaku sebagai hadiah ulang tahunku tiga tahun yang lalu. Akhirnya, aku memakai mantel itu, meskipun saat aku menerimanya dahulu, aku mencibirmu karena aku tahu aku tidak akan pernah memakai mantel konyol itu di Jakarta yang panas.
Tapi sekarang, aku tahu bahwa mantel itu akan benar-benar menghangatkanku di sini. Terimakasih, ya.
Maafkan aku yang memintamu untuk membaca surat ini tiga hari setelah aku menitipkannya pada teman baikmu. Aku percaya bahwa ia juga pasti akan memberikan ini tiga hari setelah aku menitipkannya. Maafkan aku yang tiba-tiba menghilang dari radarmu. Aku berharap kau tidak mencariku.
Maafkan aku atas segalanya. Atas pertanyaan yang sudah empat tahun terakhir kupendam. Atas segala kerisauan yang tak pernah terungkapkan. Atas semua rasa yang kurasakan sendiri. Atas segala pahit yang kutelan sendiri. Atas segala sakit yang berusaha kuobati sendiri. Maafkan aku yang menyembunyikan satu rahasia itu darimu, Hanung.
Terimakasih karena kau sudah menjadi laki-laki paling baik yang pernah kukenal selama aku duduk di bangku kuliah. Terimakasih karena kau sudah menjadi satu-satunya teman yang setia menemaniku menghadapi semua rintangan yang menghalangiku. Menjadi satu-satunya teman yang tetap ada ketika aku menghadapi titik terendah dalam hidupku. Dan menjadi teman yang mau diajak berpesta di dini hari ketika aku berhasil menyelesaikan skripsiku.
Aku tahu aku menanam benih yang salah. Aku tahu aku merawatnya dengan pupuk terbaik sehingga ia tumbuh subur dan berbunga indah. Namun, seminggu yang lalu, aku memutuskan untuk mencabutnya dan mematikannya. Aku tidak ingin membiarkannya tumbuh besar dan berbunga lebih banyak lagi, lalu kemudian mati oleh waktu.
Aku tahu aku salah, karena aku mencintai orang yang salah. Aku seharusnya tidak jatuh cinta kepadamu. Aku seharusnya tahu siapa diriku dan siapa dirimu. Sekali lagi, ini bukan salahmu. Ini salahku. Aku yang memulai dan melibatkanmu dalam permainanku yang mematikan. Aku yang mengajakmu berjalan di atas api dan kemudian membuatmu hangus oleh keadaan.
Tapi, kini kau boleh berbahagia. Aku sudah pergi jauh sekali dan kuharap kau tidak akan pernah mencariku. Kini, aku sudah melepasmu. Kau boleh pergi kemanapun sesukamu dan kau tidak harus kutarik dahulu menuju mobilku untuk mengikutiku kemanapun aku pergi. Kini, aku sudah membebaskanmu.
Hanung yang baik hati,
Cinta yang kumiliki memang terlalu naïf dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan aku tidak berani mengungkapkannya padamu. Aku hanya berani mengungkapkannya melalui surat ini. Maaf, ya. Kurasa memang ini waktu yang tepat untuk memberitahukannya padamu. Tapi, tenang saja. Aku tidak akan menaruh harapan apa-apa. Aku hanya ingin kau mengetahuinya.
Bahwa sejak pertama kali kita bertemu di hari pertama OSPEK waktu itu, aku sudah jatuh hati padamu. Dan aku merasa beruntung sekali bisa bersahabat denganmu dan banyak menghabiskan waktu denganmu, meski di saat yang sama aku merasakan pahit karena tak bisa memilikimu seutuhnya.
Itu saja, Hanung.
Ohiya, sebelum lupa. Selamat menempuh hidup baru dan selamat berbahagia. Semoga kau bisa semakin dewasa dan bertanggung jawab. Cepat mendapat momongan, ya! Aku tidak sabar mendengar bahwa kau akan segera menimang bayi dan menjadi Ayah :). Maaf aku tidak bisa hadir di hari bahagiamu. 
Aku pasti merindukanmu. Jika aku bisa kembali ke Jakarta, aku berjanji akan mengabarimu. Jangan pernah berganti nomor telepon dan e-mail, ya.
 
Salam hangat,

Dira Novilia

Hanung terduduk di ujung tempat tidurnya setelah membaca surat itu. Air mata perlahan turun menjatuhi pipinya. Ia membaca surat itu berkali-kali, kemudian ia mencubiti lengan dan pipinya, berharap itu hanyalah mimpi. Ia bertanya-tanya dimana gerangan gadis itu berada. Dari tulisan Dira, ia menebak bahwa Dira kini sudah tidak ada di Indonesia.
Air matanya semakin deras ketika ia gagal menghubungi Dira. Bahkan ia tidak bisa menghubungi ayah maupun ibu Dira. Kini, ia benar-benar kehilangan kontak dengan Dira. Ia sangat berharap bahwa Dira segera memberi kabar padanya melalui telepon agar ia bisa mengetahui dimana Dira berada sekarang.
Hanung menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. Ia masih tidak percaya bahwa Dira pergi begitu saja tanpa memberi kabar padanya. Ia melihat ke setelan beskap putih yang akan ia pakai saat acara akad nikah 2 jam lagi. Ingin rasanya ia membatalkan pernikahan itu untuk mencari Dira. Tapi, mana bisa? Ia memegangi kepalanya dan berusaha menahan air mata yang terus mendesak keluar. Ia merasakan ada yang menyayat dadanya pagi ini dan merontokkan seluruh persendiannya.
Hanung segera menelepon Adit, orang yang menyerahkan surat itu pada Hanung semalam. Ia yakin bahwa satu-satunya orang yang dapat ditanyai tentang kemana Dira pergi adalah laki-laki itu.
“Adit! Coba beritahu gue dimana Dira sekarang!” seru Hanung seketika setelah teleponnya diterima oleh Adit.
Adit hanya diam di seberang telepon.
“Jawab, Dit!” seru Hanung.
“Hanung... Dira nggak mau lo cari dia lagi,” jawab Adit.
“BERITAHU GUE DIMANA DIRA SEKARANG!” bentak Hanung tanpa ampun. Ia keluar dari kamar menuju ruang tengah.
Adit menghela napas panjang. “Dira sayang sama lo, dan dia nggak mau menyakiti dirinya lebih dalam lagi dengan membiarkan lo tahu dia ada di mana. Lo sayang sama dia juga, kan? Bahkan sampai sekarang?” tanya Adit. “Kalau memang lo sayang sama dia, biarkan dia pergi. Lo juga sudah mendapatkan orang yang tepat buat menemani lo, kan? Beberapa jam lagi lo sudah menjadi seorang suami, apa lagi yang mau lo minta dari Dira?” cecar Adit. “Lagian, siapa suruh lo nggak mau cerita apapun tentang pernikahan lo ke Dira? Lo mau buat surprise? Lo nggak mikirin perasaan dia?”
“Kenapa lo jadi marahin gue? Gue kan nggak pernah tahu kalo dia juga suka sama gue!” pekik Hanung. Air mata kembali membasahi pipinya. “Dit... Gue mohon sama lo, beritahu gue dia ada di mana. Gue mau minta maaf. Gue sekarang nggak punya kontak dia sama sekali. Dit, lo tahu gue sayang sama dia dan lo tahu gue nggak pernah punya keberanian buat mengungkapkannya. Sekarang gue mau mengakui itu ke Dira. Tolong bantu gue,” pinta Hanung di sela-sela isak tangisnya.
“Maaf, Hanung. Gue nggak bisa bantu lo. Gue sudah terlanjur janji sama Dira bahwa gue nggak akan bantu lo buat mencari dia. Lo mau nyakitin dia dengan cara kayak gini? Sudah cukup Hanung. Cinta lo yang nggak terungkapkan itu sudah jadi pedang yang membunuh perasaan dia,” ujar Adit sebelum menutup teleponnya.
Hanung bersandar di sofa. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Air mata mengaliri sela-sela jarinya. Hatinya hancur dan ia merasa ada separuh jiwanya yang menghilang. Rasa sesal memenuhi kepala dan dadanya. Ia benar-benar berharap waktu mampu membawanya ke seminggu yang lalu, saat ia mengantarkan surat undangan itu ke rumah Dira. Seharusnya ia tetap berusaha untuk menemui Dira setelah itu, di tengah-tengah kesibukannya mengurus pernikahannya. Setidaknya, ia bisa melihat Dira untuk terakhir kali, dan mengungkapkan perasaan yang selama ini ia sembunyikan atas nama persahabatan.

FIN
Jakarta, 1 Desember 2013