Jadi ceritanya malam ini gue lagi suntuk banget ngerjain press release yang bakal dikumpulin Rabu besok sebagai komponen ujian mata kuliah Perencanaan Komunikasi Stratejik. Di telinga gue mengalun merdu lagu-lagu ballad punya EXO. Kenapa ballad? Karena ini sudah malam. Kalo playlist gue isi dengan track kayak Wolf, Let Out The Beast, Two Moons, yang ada badan gue kumat jiwa ulat bulunya--uget-uget alias goyang-goyang gak jelas. Jadi mendingan malam-malam gini kalem aja, masukin track alus aja kayak Moonlight, Baby Don't Cry, What is Love, Angel, Don't Go, dan Growl *tetep masuk* *lagu favorit sepanjang masa* INI KENAPA NGOMONGIN LAGU-LAGUNYA EXO HAHAHA
Karena lagi bosen, gue iseng nangkepin nyamuk yang jam segini mulai keliaran di kamar, meski sudah nyalain obat nyamuk elektrik yang mat-nya gue ganti tiap 3 jam. Trus bengong-bengong gak jelas sambil mainin kacamata, dan akhirnya kepala gue nemu satu ide yang bikin "ah seru nih kalau nyampahin ini ide di blog."
Semalem ngobrol sama Ibu di telpon, dan ngomongin soal adek gue yang tahun depan lulus SMP, gue yang (insya Allah) tahun depan menyandang gelar S1, dan seterusnya. Gue pun menyadari satu hal, "Ya Allah gue udah besar...". Time flies so incredibly fast, perasaan baru kemaren gue nangis ninggalin rumah karena harus kuliah di luar kota, dan sebentar lagi gue akan selesain pendidikan gue. Trus kerja atau lanjut ambil master di luar negeri (aduh pengen banget ambil master jurusan art, entah itu musik akting atau dancing, tapi kan gak nyambung sama S1 gue HAHAHAHA), trus..........nikah.
Umur gue sekarang 21 dan target gue untuk menikah adalah usia 25 dan paling telat 27. Kenapa gue memilih usia itu, ya karena menurut gue disitu adalah waktu dimana usia kita matang secara fisik dan mental untuk menikah. Udah dewasa, udah siap ngurus rumah tangga dan membangun hidup dengan pasangan.
Meski punya target, tapi gue adalah tipikal oportunis yang "kalo emang sebelum umur segitu udah dapat jodoh dan udah siap, ya kenapa enggak?". Teman sepermainan gue juga memprediksi "di antara kita berenam, kayaknya lo deh Fau yang bakal paling pertama nikah." Hahaha gue juga nggak ngerti. Apa karena image 'mama' udah nempel banget di gue gara-gara membintangi film pendek waktu itu, apa karena gue terlihat istri-able, gue juga nggak tau. Padahal sampai sekarang gue juga belum menemukan pasangan alias masih jomblo. Darimana itu prediksi kalau gue bakal cepat nikah hahaha OH MUNGKIN GUE BAKAL NIKAH SAMA CHANYEOL. KARENA BELAKANGAN MACARIN DIA MULU. Nah kan kumat ulat bulunya...
Bicara soal nikah, gue adalah tipe orang yang 'nggak mau nikah kalau masih sering mikirin main daripada mikirin tumpukan cucian di kosan'. Menurut gue, hal sederhana bisa kok jadi alat ukur apakah lo sudah siap nikah apa belum. Ketika udah nikah kan bakal banyak yang diurusin. Satu, ngurus suami. Ini bakal bercabang ke hal lain lagi: bangunin dia tidur, bikinin sarapan, siapin pakaian kerja doi, cuciin bajunya doi dll. Ketika lo masih sering bangun siang, lupa sarapan, nggak gosok baju lo sendiri, males nyuci, mending siapin mental dulu deh buat nikah. Ngurus diri sendiri aja belum becus, gimana ngurus anak orang yang ngasih makan lo. Iya kan? Iya.
Nah, meski gue nggak mau nolak jodoh, tapi bukan berarti gue mau nikah segitu lulus S1. Aduh, masih terlalu muda...gue masih doyan fangirling. Gue masih suka heboh sendiri liat cowok ganteng pas jalan-jalan di mal, masih sering nggak peduli sama diri sendiri, masih suka main, teriak-teriak dangdutan di tempat karaoke, dan ngelakuin hal-hal konyol lainnya. Intinya, belum siap aja gitu kalau harus nikah di usia hmm, taruhlah 22 tahun. Gue cuma boros muka aja tapi jiwa sih masih kayak anak SMA.
Tapi, di satu sisi gue percaya bahwa semua itu bisa dipelajari seiring berjalannya waktu. Teman SMA gue banyak kok yang keliatan 'wild and free' waktu zaman sekolah tapi begitu lulus langsung nikah dan hidupnya terlihat 'lurus' gitu. Maksudnya suaminya terurus, pas udah punya anak juga anaknya dirawat dengan baik. Ibaratnya, mereka didewasakan oleh waktu. Nikah kan tanggung jawab ya, bukan cuma tanggung jawab sama komitmen tapi juga tanggung jawab untuk mengabdi kepada pasangan.
Kadang gue suka gedek kalo liat orang yang udah kebelet banget mau nikah, karena pengen 'melakukan hal-hal romantis dengan suami'. Iya gue sih nggak bohongin diri ya, gue juga pengen lah melakukan hal-hal romantis dengan suami kayak duduk di atas atap sambil ngeliatin bintang-bintang, minum teh berdua di teras, belanja bareng, liburan berdua dll. Semua cewek pasti punya bayangan soal itu. Tapi nikah kan nggak cuma urusin hal-hal romantis.
Ketika nikah lo bakal dihadapkan dengan hal-hal mengerikan seperti ibu mertua yang galak uang, pembagian tugas, belum lagi kalau kalian punya anak, cara ngedidik anak itu, dll dll yang nggak ada habisnya. Belum lagi kalau kalian berdua sama-sama kerja, terus nanti ternyata uang lo lebih banyak daripada uang doi, terus doi marah karena lo terlihat-bekerja-terlalu-keras-padahal-itu-tanggung-jawab-dia. Waduh puyeng deh. Belum lagi misalnya kalian harus kredit rumah, mobil, mau bikin usaha, buka tabungan, bikin asuransi pendidikan buat anak, WAAAAAH semuanya butuh kesiapan. Belum lagi kewajiban mencintai satu sama lain #EAAAAA
Bakal jadi masalah besar kalau dari awal lo adalah tipe cewek independen yang mau semuanya dikerjain sendiri--punya penghasilan sendiri, apa-apa dilakukan sendiri. Hmm, menurut gue pola pikir seperti ini harus dikikis sedikit demi sedikit ketika lo memasuki usia-rawan-menikah. Cowok kan nggak suka kalau 'diabaikan'. Diabaikan disini adalah, apa yang mereka lakukan lo anggap sebelah mata. Misalnya, dia mau ngasih uang gaji ke lo tapi lo merasa nggak butuh-butuh banget karena lo punya penghasilan sendiri. Nah, ini bisa jadi sumber pertengkaran.
Apalagi dengan pola pikir seperti itu ternyata lo punya suami yang tipenya adalah 'istri gue ya harus fokus ngurus rumah tangga, urusan cari nafkah itu tanggung jawab gue'. Meanwhile lo selalu berusaha untuk membuktikan ke diri lo sendiri bahwa lo mampu berprestasi dan mencapai apapun yang lo mau. WAAAAH KASUS.
Menurut pengamatan gue, cewek-cewek perantau yang tinggal di ibukota punya kecenderungan seperti ini. Ini pengamatan gue semata sih secara objektif ya, artinya dari luar aja gitu. Nggak ngerti kenapa, gue sendiri pun selama 3 tahun tinggal di Jakarta, pola pikir gue jadi lebih individualis. Apa-apa serba dilakuin sendiri. Dulu gue sukanya kemana-mana itu rame-rame (waktu SMA hobi banget konvoi pake motor yang bikin sebel pengendara lain itu--aduh zaman jahiliyah banget), tapi sekarang gue kurang suka pergi rame-rame. Gue juga punya hobi aneh, suka kelayapan SENDIRIAN. Pantesan jomblo, hih. Dan banyak lho yang kayak begini di sekitar gue.
Trus, kehidupan sebagai mahasiswa juga menuntut lo untuk lebih 'keras' pada diri lo sendiri kalo nggak mau dilibas sama temen lo sendiri. Jiwa kompetitif lo jadi berkembang dan terus berkembang. Dan ini yang gue takutkan. Gue takut semua ini kebawa hingga berkeluarga nanti--menganggap teman hidupmu juga kompetitor. Aduh ini masalah banget. Namanya teman hidup kan adalah teman bersama menuju kebahagiaan, bukan 'yang penting gue bahagia, lo bahagia apa enggak bukan urusan gue'.
Ujung dari ulasan ini adalah, menikahlah ketika sudah siap. Ketika sudah bisa menyeimbangkan tujuan pribadi dengan tujuan bersama. Ketika sudah lebih peduli kepada kehidupan orang yang bersedia menghabiskan sisa hidupnya dengan kita. Ketika sudah siap menyambut kehadiran orang lain yang sama sekali bukan berasal dari keluarga kita.
Karena menikah bukan cuma urusan mencintai. Ada komitmen yang harus terus terikat. Ada tujuan yang ingin dicapai bersama. Ada tanggung jawab untuk menjaga dan merawat satu sama lain. Ada tanggung jawab dunia dan akhirat yang harus dipenuhi.
Menikah muda bukan dosa, tapi pastikan pola pikir kita tidak terlalu muda dan labil ketika memutuskan untuk menikah.
Nah, sebelum nikah, mending cari jodohnya dulu yang bener.
Annyeong!
ps: maaf kalau isinya nggak mutu. Namanya juga 'sampah dini hari' :)))
.jpg)






.jpg)




