1.12.13

Sesal


Dira melirik jam yang digantung di dinding kamarnya. Sudah jam 8 pagi. Dira menguap dan mematikan drama Korea yang ia tonton dari laptopnya sejak tadi malam. Ia mengambil cermin kecil di meja laptopnya, dan melihat matanya yang bengkak.
“Duh Dira... Kalau nonton jangan bawa perasaan dong. Sudah berapa kali nangis nih dalam semalem,” gumamnya sambil memandangi wajahnya di cermin itu.
Ia kemudian beranjak dan berjalan menuju pintu kamarnya. Ia membuka pintu dan ternyata di depan kamarnya sudah berdiri Mbak Inah dengan sebuah paket di tangannya.
“Eh, neng Dira... Baru aja saya mau ngetuk pintu. Ini, ada kiriman,” ujarnya seraya menyerahkan paket itu pada Dira.
“Dari siapa, Mbak?” tanya Dira.
“Eh... Dari teman neng Dira yang ganteng itu... Mas Hanung. Dia tadi pagi kesini, pagi banget, Neng. Tapi dia nggak mau masuk ke dalam rumah karena dia tahu Neng Dira pasti belum bangun,” jawab Mbak Inah.
Hanung? Tumben, batin Dira. Dira pun mengangguk dan menerima paket itu. Ia kemudian kembali masuk ke kamarnya dan membuka paket itu. Ia bertanya-tanya apa sebenarnya yang dikirimkan Hanung. Dibilang buku, terlalu tipis. Baju, mana mungkin. Sebelum membuka paket itu, ia mengecek telepon genggamnya, mencoba mencari tahu apakah Hanung memberi kabar tentang paket itu. Tetapi, hasilnya nihil.
Dira pun membuka paket itu dengan tidak sabar. Di dalamnya, ada bungkusan ungu dengan hiasan pita emas diluarnya. Perasaan Dira langsung tidak enak. Ia kemudian melepas ikatan pita itu dan  membuka bungkusan ungu itu.
“Hanung pasti bercanda nih. Mana mungkin sih? Kenapa dia nggak cerita sama sekali ke gue...” batin Dira.

**

Untuk Hanung, sahabat rekatku yang paling kusayangi, 
            
Ketika kau membaca surat ini, mungkin aku sedang duduk di bangku taman di pinggir jalan yang sudah mulai tertutup salju. Ya, musim dingin telah tiba dan seperti yang kau tahu, ini pertama kalinya aku merasakan musim dingin. Sekali lagi aku berterima kasih atas mantel panjang berwarna merah yang kau berikan padaku sebagai hadiah ulang tahunku tiga tahun yang lalu. Akhirnya, aku memakai mantel itu, meskipun saat aku menerimanya dahulu, aku mencibirmu karena aku tahu aku tidak akan pernah memakai mantel konyol itu di Jakarta yang panas.
Tapi sekarang, aku tahu bahwa mantel itu akan benar-benar menghangatkanku di sini. Terimakasih, ya.
Maafkan aku yang memintamu untuk membaca surat ini tiga hari setelah aku menitipkannya pada teman baikmu. Aku percaya bahwa ia juga pasti akan memberikan ini tiga hari setelah aku menitipkannya. Maafkan aku yang tiba-tiba menghilang dari radarmu. Aku berharap kau tidak mencariku.
Maafkan aku atas segalanya. Atas pertanyaan yang sudah empat tahun terakhir kupendam. Atas segala kerisauan yang tak pernah terungkapkan. Atas semua rasa yang kurasakan sendiri. Atas segala pahit yang kutelan sendiri. Atas segala sakit yang berusaha kuobati sendiri. Maafkan aku yang menyembunyikan satu rahasia itu darimu, Hanung.
Terimakasih karena kau sudah menjadi laki-laki paling baik yang pernah kukenal selama aku duduk di bangku kuliah. Terimakasih karena kau sudah menjadi satu-satunya teman yang setia menemaniku menghadapi semua rintangan yang menghalangiku. Menjadi satu-satunya teman yang tetap ada ketika aku menghadapi titik terendah dalam hidupku. Dan menjadi teman yang mau diajak berpesta di dini hari ketika aku berhasil menyelesaikan skripsiku.
Aku tahu aku menanam benih yang salah. Aku tahu aku merawatnya dengan pupuk terbaik sehingga ia tumbuh subur dan berbunga indah. Namun, seminggu yang lalu, aku memutuskan untuk mencabutnya dan mematikannya. Aku tidak ingin membiarkannya tumbuh besar dan berbunga lebih banyak lagi, lalu kemudian mati oleh waktu.
Aku tahu aku salah, karena aku mencintai orang yang salah. Aku seharusnya tidak jatuh cinta kepadamu. Aku seharusnya tahu siapa diriku dan siapa dirimu. Sekali lagi, ini bukan salahmu. Ini salahku. Aku yang memulai dan melibatkanmu dalam permainanku yang mematikan. Aku yang mengajakmu berjalan di atas api dan kemudian membuatmu hangus oleh keadaan.
Tapi, kini kau boleh berbahagia. Aku sudah pergi jauh sekali dan kuharap kau tidak akan pernah mencariku. Kini, aku sudah melepasmu. Kau boleh pergi kemanapun sesukamu dan kau tidak harus kutarik dahulu menuju mobilku untuk mengikutiku kemanapun aku pergi. Kini, aku sudah membebaskanmu.
Hanung yang baik hati,
Cinta yang kumiliki memang terlalu naïf dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan aku tidak berani mengungkapkannya padamu. Aku hanya berani mengungkapkannya melalui surat ini. Maaf, ya. Kurasa memang ini waktu yang tepat untuk memberitahukannya padamu. Tapi, tenang saja. Aku tidak akan menaruh harapan apa-apa. Aku hanya ingin kau mengetahuinya.
Bahwa sejak pertama kali kita bertemu di hari pertama OSPEK waktu itu, aku sudah jatuh hati padamu. Dan aku merasa beruntung sekali bisa bersahabat denganmu dan banyak menghabiskan waktu denganmu, meski di saat yang sama aku merasakan pahit karena tak bisa memilikimu seutuhnya.
Itu saja, Hanung.
Ohiya, sebelum lupa. Selamat menempuh hidup baru dan selamat berbahagia. Semoga kau bisa semakin dewasa dan bertanggung jawab. Cepat mendapat momongan, ya! Aku tidak sabar mendengar bahwa kau akan segera menimang bayi dan menjadi Ayah :). Maaf aku tidak bisa hadir di hari bahagiamu. 
Aku pasti merindukanmu. Jika aku bisa kembali ke Jakarta, aku berjanji akan mengabarimu. Jangan pernah berganti nomor telepon dan e-mail, ya.
 
Salam hangat,

Dira Novilia

Hanung terduduk di ujung tempat tidurnya setelah membaca surat itu. Air mata perlahan turun menjatuhi pipinya. Ia membaca surat itu berkali-kali, kemudian ia mencubiti lengan dan pipinya, berharap itu hanyalah mimpi. Ia bertanya-tanya dimana gerangan gadis itu berada. Dari tulisan Dira, ia menebak bahwa Dira kini sudah tidak ada di Indonesia.
Air matanya semakin deras ketika ia gagal menghubungi Dira. Bahkan ia tidak bisa menghubungi ayah maupun ibu Dira. Kini, ia benar-benar kehilangan kontak dengan Dira. Ia sangat berharap bahwa Dira segera memberi kabar padanya melalui telepon agar ia bisa mengetahui dimana Dira berada sekarang.
Hanung menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. Ia masih tidak percaya bahwa Dira pergi begitu saja tanpa memberi kabar padanya. Ia melihat ke setelan beskap putih yang akan ia pakai saat acara akad nikah 2 jam lagi. Ingin rasanya ia membatalkan pernikahan itu untuk mencari Dira. Tapi, mana bisa? Ia memegangi kepalanya dan berusaha menahan air mata yang terus mendesak keluar. Ia merasakan ada yang menyayat dadanya pagi ini dan merontokkan seluruh persendiannya.
Hanung segera menelepon Adit, orang yang menyerahkan surat itu pada Hanung semalam. Ia yakin bahwa satu-satunya orang yang dapat ditanyai tentang kemana Dira pergi adalah laki-laki itu.
“Adit! Coba beritahu gue dimana Dira sekarang!” seru Hanung seketika setelah teleponnya diterima oleh Adit.
Adit hanya diam di seberang telepon.
“Jawab, Dit!” seru Hanung.
“Hanung... Dira nggak mau lo cari dia lagi,” jawab Adit.
“BERITAHU GUE DIMANA DIRA SEKARANG!” bentak Hanung tanpa ampun. Ia keluar dari kamar menuju ruang tengah.
Adit menghela napas panjang. “Dira sayang sama lo, dan dia nggak mau menyakiti dirinya lebih dalam lagi dengan membiarkan lo tahu dia ada di mana. Lo sayang sama dia juga, kan? Bahkan sampai sekarang?” tanya Adit. “Kalau memang lo sayang sama dia, biarkan dia pergi. Lo juga sudah mendapatkan orang yang tepat buat menemani lo, kan? Beberapa jam lagi lo sudah menjadi seorang suami, apa lagi yang mau lo minta dari Dira?” cecar Adit. “Lagian, siapa suruh lo nggak mau cerita apapun tentang pernikahan lo ke Dira? Lo mau buat surprise? Lo nggak mikirin perasaan dia?”
“Kenapa lo jadi marahin gue? Gue kan nggak pernah tahu kalo dia juga suka sama gue!” pekik Hanung. Air mata kembali membasahi pipinya. “Dit... Gue mohon sama lo, beritahu gue dia ada di mana. Gue mau minta maaf. Gue sekarang nggak punya kontak dia sama sekali. Dit, lo tahu gue sayang sama dia dan lo tahu gue nggak pernah punya keberanian buat mengungkapkannya. Sekarang gue mau mengakui itu ke Dira. Tolong bantu gue,” pinta Hanung di sela-sela isak tangisnya.
“Maaf, Hanung. Gue nggak bisa bantu lo. Gue sudah terlanjur janji sama Dira bahwa gue nggak akan bantu lo buat mencari dia. Lo mau nyakitin dia dengan cara kayak gini? Sudah cukup Hanung. Cinta lo yang nggak terungkapkan itu sudah jadi pedang yang membunuh perasaan dia,” ujar Adit sebelum menutup teleponnya.
Hanung bersandar di sofa. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Air mata mengaliri sela-sela jarinya. Hatinya hancur dan ia merasa ada separuh jiwanya yang menghilang. Rasa sesal memenuhi kepala dan dadanya. Ia benar-benar berharap waktu mampu membawanya ke seminggu yang lalu, saat ia mengantarkan surat undangan itu ke rumah Dira. Seharusnya ia tetap berusaha untuk menemui Dira setelah itu, di tengah-tengah kesibukannya mengurus pernikahannya. Setidaknya, ia bisa melihat Dira untuk terakhir kali, dan mengungkapkan perasaan yang selama ini ia sembunyikan atas nama persahabatan.

FIN
Jakarta, 1 Desember 2013

4.10.13

The Wedding

Gadis mematut-matut dirinya di depan cermin. Ia merapikan sasakan rambutnya dengan ujung jarinya, mencoba memasukkan anak rambut yang rupanya tidak terkena semprotan hairspray. Ia kemudian menarik-narik ujung kebayanya yang berawarna gading. Memastikan ia sudah tampil sempurna hari ini.

"Ndhuk, ayo berangkat. Sebentar lagi resepsinya mulai," ujar Ibu, melongok di sela-sela tirai yang menutupi pintu kamar Gadis.

Gadis segera mengenakan sepatu kitten heels berwarna keemasan dan bertabur swarovski yang khusus dirancang untuk dikenakan di hari resepsi pernikahannya. Setelah memakai sepatu, sekali lagi Gadis mematut dirinya di depan cermin, memastikan tidak ada sedikitpun kekurangan dalam penampilannya kali ini.

"Wis cah ayu... Udah cantik kok," goda Lik Yuni saat memergoki Gadis yang masih sibuk memandangi bayangannya di cermin.

Gadis tersenyum kecil dan keluar kamar. Di halaman, ayah dan ibunya sudah bersiap menuju taman di mana resepsi pernikahannya dengan Angga dilakukan.

Di tempat resepsi, Angga sudah bersiap dengan menggunakan beskap berwarna gading. Senyumnya mengembang saat melihat wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu berjalan melintasi meja-meja prasmanan menuju pelaminan. 

"Kamu cantik, Dis," puji Angga sebelum mengecup kening istrinya itu. Mereka kemudian duduk di kursi berwarna putih, dengan hiasan bunga-bunga mawar putih segar yang menjadi 'atap' bagi pelaminan mereka.  Tamu-tamu sudah mulai berdatangan, dan mereka terlihat terkesima dengan dekorasi taman yang sangat romantis namun tetap sederhana.

Ini adalah pernikahan impian Gadis. Garden party, dengan dekorasi serba putih, dan mawar putih di hampir semua sudut di tempat resepsi. Di sisi kanan dan kiri pelaminan, di atas pelaminan, di pojok meja prasmanan, di manapun. Di kursi undangan pun, terdapat hiasan semacam korsase mawar putih mungil di sandaran kursi. Dan hari ini, semua yang Gadis inginkan terwujud. Apalagi dengan Angga di sebelahnya. Gadis merasa menjadi perempuan paling bahagia di muka bumi.

Lagu Born To Love You mengalun merdu dari suara wedding singer di sisi kiri taman. Lagu ini memang lagu yang diinginkan Angga untuk dimainkan saat hari pernikahan mereka.

Tik...tik...tik....

Tiba-tiba saja gerimis turun rintik-rintik. Tentu saja semua ini membuat panik semua orang. Tidak hanya para kru wedding organizer, tetapi juga keluarga kedua mempelai, tamu undangan, serta mempelai sendiri. Semuanya berusaha mencari tempat berteduh karena hujan mulai deras. 

 "Udah, disini aja, Sayang," ujar Angga hangat. Tangannya menggenggam tangan Gadis, seakan tak ingin melepasnya. Dan hujan semakin deras...hingga Gadis bisa merasakan tubuhnya sudah basah kuyup, bahkan sebelum ia beranjak dari kursi pelaminan dan mencari tempat berteduh.

***

"Bangun! Anak perawan kok bangunnya siang melulu! Bangun! Mandi sana!" Byurrr... Ibu pun menyiram Gadis yang masih melungker di atas tempat tidurnya.

Gadis membuka matanya. Ia berada di kamar tidurnya. Di sisi kasurnya ada ibu yang berdiri dengan wajah geram, tangan kanannya menenteng ember yang sudah kosong.

Tidak ada pernikahan, tidak ada mawar putih, tidak ada tamu undangan. 

Dan yang lebih menyakitkan, tidak ada Angga.

FIN

031013

25.9.13

Di Bawah Langit Malam Ini


Malam ini langit tidak secerah biasanya. Ada selaput tipis mendung yang mengajak angin untuk bermain-main dan menciptakan hawa dingin. Tapi, Dio mengajak Disha untuk tetap naik ke atas atap rumah beberapa jam sebelum hari ini berakhir.

Ini sebenarnya ritual biasa. Hampir setiap malam minggu, mereka berdua menghabiskannya di atas atap rumah mungil mereka. Namun malam ini tidak biasa. Sudah seminggu belakangan mereka tidak bicara satu sama lain, karena kesibukan masing-masing. 

Dio selalu berangkat ke kantor sebelum Disha bangun, dan pulang ke rumah ketika Disha sudah terlelap selama seminggu belakangan ini. Tidak ada waktu bagi mereka untuk sekedar menyantap sarapan bersama. Bahkan, Disha yang biasanya selalu menyiapkan pakaian kerja Dio setiap pagi, selalu kehilangan momen itu karena Dio sudah pergi ke kantornya bahkan sebelum adzan subuh terdengar. Dio hanya meninggalkan secarik post-it yang ia tempelkan di jam weker, berisi ucapan maaf karena tidak membangunkan Disha untuk pamit. Itu yang Dio lakukan setiap pagi.

Dio hanya tidak mengetahui bahwa setiap tengah malam Disha terbangun untuk menyelimuti tubuhnya. Ia juga tidak pernah tahu bahwa Disha mencium keningnya setiap malam dan membisikkan kata 'I love you' di telinga Dio saat Dio terlelap. Dio tidak tahu bahwa Disha sangat merindukan dirinya. Aneh memang, mereka tinggal serumah, namun tidak pernah ada kesempatan bagi Disha untuk melepas rindu, meski hanya sekejap.

Dio menyandarkan punggungnya di bagian atap yang sedikit curam. Berbantalkan telapak tangannya, Dio menatap langit yang mulai mendung. Disha duduk di sampingnya memeluk lutut, berharap hal itu bisa mengurangi hawa dingin yang mulai menusuk tulangnya.

Mereka tidak berbicara. Keduanya terperangkap dalam keheningan. Hanya desau angin yang mengisi keheningan di antara mereka. 

Dalam situasi sehening ini, kau seharusnya bisa mendengarkan suara yang mendengung di kepalaku. Suara inginku. Batin Disha. Inginku sederhana. Berbicara denganmu di malam hari saat menyambutmu pulang. Aku merindukan pillow talk sebelum tidur yang setiap hari kita lakukan. Tapi belakangan ini, kita semakin jauh. Apakah kamu tidak mengerti bahwa aku merindukan kamu? Aku merindukan kita? 

Namun mereka hanya diam. Dio masih memandangi langit tanpa berkata apa-apa. Padahal, biasanya ia paling bersemangat jika membahas langit--mulai dari warnanya, benda-benda yang ada di sana, bahkan berkhayal jika ada 'bumi' lain di salah satu galaksi yang ada di sana.

"Disha..." panggil Dio. Ia menarik tangan Disha dan membuat Disha harus mundur sedikit dari tempatnya duduk. Kini mereka berdua bersandar di atap yang sama, namun mata mereka masih tidak bertemu.

Tangan kanan Dio menggenggam tangan kiri Disha perlahan. "I miss you. I miss us. I miss our time..." bisik Dio di telinga Disha.

Genggaman tangan Dio semakin erat. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Disha, dan mengecup kening Disha dengan penuh kasih. 

"Me too, Honey," jawab Disha, menatap wajah lelaki yang paling dikasihinya itu. 

Tak ada yang bisa Disha ucapkan selain itu.  Kebahagiaan telah mengunci lidah Disha untuk berkata lebih banyak lagi. Ucapan rindu dari dari Dio, bukan pillow talk seperti biasanya, sudah membuatnya sangat bahagia. Genggaman tangannya sudah cukup membuat Disha merasa sangat nyaman berada di sisinya.

Dan senyuman Disha saat ini, membuat Dio merasa jatuh cinta pada wanita itu untuk ke sekian kalinya.

***
250913





18.9.13

Saat ini, lagu-lagu yang dulu didengarkan sekitar pertengahan 2010 hingga hampir akhir 2010 sedang mengalun merdu di kamar kos ini. Ditemani secangkir teh hangat, dan aroma pengharum ruangan yang sama seperti di rumah pada waktu itu. Dan seketika, memori itu bangkit. Seperti film yang sedang di putar entah di bagian kepala yang mana. Terlihat jelas di depan mata, seakan mengalaminya sekali lagi. Dan ini, merupakan puncak hari ini. Dan memori ini, semuanya mengingatkan pada satu orang. Kamu.

Untuk Kamu

Untuk kamu,

Aku masih ingat ekspresi wajahmu ketika kamu menolongku mengikatkan tali sepatuku. Ketika di hari itu pula, kamu duduk di sebelahku ketika makan siang, dan terus mencoba mengikutiku kemanapun aku pergi. Ketika hari itu kamu memboncengku melewati jalanan terjal dan sepi di sore 17 April itu.

Aku masih mengingatnya dengan jelas.

Ketika sesampainya di sekolah kamu masih harus mengikuti audisi untuk penampilan di pensi sekolah keesokan harinya. Dan kamu mengabariku dengan raut wajah senang ketika kamu berhasil lolos audisi, meskipun aku tahu kamu sedang sangat lelah.

Untuk kamu,

Tahukah kamu, aku masih bisa mengingat sikapmu yang kunilai manis untukku
Ketika kamu mengoreksi bedakku yang terlalu tebal
Ketika kamu memboncengku sepulang sekolah. Dan kamu tidak memakai helm. Melajukan motorku dengan kecepatan tinggi dan membuatku harus memeluk pinggangmu erat-erat. Kamu sengaja, ya? Dasar!

Ketika di lain waktu, kamu menjemputku untuk latihan band, dan lagi-lagi mengemudikan kendaraanmu dengan kecepatan tinggi. Membuatku berteriak lepas karena takut dan gemas dengan tingkahmu. "Anggap saja itu tadi roller coaster." Itu alasanmu setiap kali kamu memboncengku dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi.

Ketika kamu menyeka noda krim kue yang teman-teman oleskan di wajahku, ketika hari ulang tahunku.
Ketika kamu menyeka air mataku yang sebenarnya jatuh karenamu. Karena aku yang baru saja menyatakan perasaanku di hari terakhir kita bertemu. Dan kamu hanya berkata, "aku sudah tahu."

Untuk kamu,

Kamu yang pernah menjadi alasanku untuk pergi ke sekolah dengan semangat menggebu
Kamu yang pernah menjadi alasanku untuk belajar berdandan dan mempercantik diri
Namun kamu juga yang berkata, "wajahmu terlihat lebih manis jika seperti ini." saat kamu datang ke rumahku pagi itu
Kamu yang dengan setia memberikan tumpangan ke sekolah ketika aku baru saja mengalami kecelakaan
Kamu yang setia menemaniku pulang setelah latihan hingga larut malam

Untuk kamu,

Kamu yang sudah menemukan pengisi hatimu
Kamu yang sudah menemukan jawaban atas segala mimpimu
Kamu yang mungkin sudah lupa dengan segala hal manis yang pernah kita lalui bersama

Aku merindukanmu. 

Meski aku tahu, aku tak sepantasnya begitu.

16.9.13

if you love someone, SAY IT, don't wait until cows could fly to the moon.

23.6.13

Journal #13: After Project CommCreation--We Got Toblerone!

Jumat, 22 Juni 2013 lalu, panitia CommCreation, event paling cetar membahana se-ilmu komunikasi Universitas Bakrie, mengadakan 'After Project CommCreation'. Jadi acara ini sebenarnya adalah pembubaran panitia, sekaligus pemberian apresiasi kepada panitia acara yang sudah bekerja keras selama hampir 6 bulan untuk mempersiapkan CommCreation.

After Project CommCreation dikemas seperti acara-acara malam penganugerahan gitu. Ada karpet merah, lampu-lampu sorot, dan kartu award buat setiap panitia yang dipanggil. Meskipun nggak smua panitia hadir di acara itu, tapi acaranya tetap seru

Satu per satu divisi dipanggil ke depan untuk menerima penghargaan. Setiap divisi menerima penghargaan yang berbeda-beda, mulai dari cokelat Silver Queen sampai voucher ngopi-ngopi di Starbucks. Semua penghargaan dibuat setara dengan usaha yang dilakukan tiap divisi itu.

Malam itu, divisi gue, humas, menerima penghargaan berupa tiga buah cokelat Toblerone. Nama award-nya pun 'Toblerone', hahaha. Cokelat itu akhirnya habis di malam itu juga setelah dibagi-bagi ke teman-teman sesama panitia.

Terlepas dari acaranya yang simpel tapi bikin kami merasa 'dihargai', acara ini juga bikin terharu. Gue jadi ingat waktu cari-cari media partner dan meng-update Twitter dan Facebook CommCreation. Meskipun kadang mangkir dari tugas karena harus ngerjain tugas kuliah atau karena alasan simpel seperti 'males', 'lupa', 'nggak ada internet' dan sebagainya, bekerja dengan panitia CommCreation merupakan pengalaman yang nggak pernah terlupakan bagi gue. Bekerja dengan orang-orang hebat yang mau bekerja keras dan mengorbankan waktunya merupakan kesempatan yang berharga bagi gue pribadi. Apalagi dengan kesuksesan CommCreation yang menjadi 'bahan omongan' sampai beberapa hari setelah acara karena kami berhasil mengundang Payung Teduh.

Oh dear committees, I love and adore you so much :)

15.6.13

Journal #12: Field Trip to Bursa Efek Indonesia!

Jumat lalu mahasiswa PR Universitas Bakrie melakukan field trip ke Bursa Efek Indonesia. Lho, kok anak komunikasi kunjungannya ke bursa efek? Jangan salah, kami mahasiswa PR juga belajar tentang pasar modal. Terutama yang berkaitan sama hubungan investor.

Field trip itu gue jadiin salah satu 'pelarian' dari segala himpitan tugas yang makin menyiksa. Gue anggap itu sebagai acara 'jalan-jalan' yang dapat bonus ilmu.

Oh iya, di hari yang sama gue juga pada akhirnya dapat almamater dari kampus setelah menunggu sekitar 2 tahun. Udah gitu almamaternya kegedean lagi, huft. Tapi nggak apa-apa lah, yang penting punya, hehehe.

Kembali lagi ke cerita field trip, gue excited banget waktu sampai di IDX Tower, tempat kantor BEI. Gue kagum sama moodlight di dalamnya yang ganti-ganti warna, kadang ungu, biru, merah. Aduh gue udik banget, tapi ya namanya juga baru pertama kali liat yang begitu, Biasanya moodlight kan adanya di dalam kabin pesawat, hehehe.

Field trip diawali dengan nonton film tentang sejarah pasar modal Indonesia. Meskipun agak boring karena visual filmnya kurang menarik, tapi semua itu diimbangi dengan informasinya yang kaya. Setelah itu ada sesi presentasi dan tanya jawab, dimana kita bisa tanya-tanya langsung mengenai pasar modal. Dari penjelasan-penjelasan waktu field trip waktu itu, gue akhirnya tahu kalo menanam saham itu lebih menguntungkan daripada menabung di bank. Gak enaknya adalah kita nggak bisa ambil uang kita sesuka hati seperti kita mengambil tabungan di ATM.

Setelah itu kita diajak ke galeri sejarah BEI. Nah, disini gue lebih tercengang lagi melihat alat-alat multimedia yang canggih. Yang buat gue tercengang itu sebenarnya adalah, ternyata di Indonesia ada ya alat-alat seperti itu. Somehow gue bangga sama Indonesia, hahaha.

Setelah puas gali ilmu sebanyak-banyaknya dan foto-foto, kita pun kembali lagi ke kampus. Dan gue sedih waktu field trip itu berakhir. Karena itu artinya gue harus kembali menghadapi tugas-tugas yang banyaknya naudzubillah itu. Tapi nggak apa-apa deh, sebentar lagi UAS, dan habis UAS libur panjang. Itu artinya sebentar lagi gue pulang kampung! Yes!

9.6.13

Journal #11: Kotabaru is ON FIRE!

Kotabaru is on fire. Literally. 


Senin 3 Juni kemarin, Kotabaru kembali 'memperbaharui' kotanya. Ya, hampir seperti semacam tradisi, menjelang atau sesudah hari jadi Kabupaten Kotabaru, selalu saja ada insiden kebakaran yang menimpa kota ini.

Dan kali ini, kebakaran terjadi lagi. Dan kejadiannya tepat di sebelah rumah gue! D'oh!

Pagi itu, gue lagi siap-siap buat ke kampus ketika ngecek recent update di BlackBerry Messenger. Gue agak kaget karena ada beberapa status yang bilang 'Kotabaru kebakaran lagi'. Gue scroll lagi ke bawah, dan ternyata udah banyak teman gue yang pasang profile picture gambar bangunan yang kebakar. Gue kepo dong, dan setelah gue perbesar gambar itu...gue mikir. Ini kayak kenal bangunan apa. Wait...WHAT?! Ini kan kantor Dinas Kesehatan! Dan kantor ini TEPAT di sebelah rumah gue!

My home is right on the left side of this building. You can imagine how panic I was when I looked at this picture.
Dengan tangan gemetaran gue langsung ambil handphone dan menelpon ibu gue. Gak lama, ibu gue angkat teleponnya dengan suara gemetar.
"Mbak...dinkes kebakaran mbak..."

Deg! gue langsung ikutan panik dan gue cuma bisa menyarankan ibu gue supaya tenang. Dia sempat cerita kalo barang-barang di rumah udah dikeluarin semua, dan banyak yang bantuin ibu gue buat keluarin barang-barangnya. Dan dia juga sempat cerita kalo BlackBerry punya adek gue hilang. Tapi yowes lah, yang penting ibu dan adik-adik gue selamat!

Setelah itu gue beneran stuck dan ga ngapa-ngapain selain melihat ke gambar itu melulu. Persendian gue rasanya rontok ga bersisa, lemes banget rasanya. Mana gue belum sarapan, jadi tambah gemeter. Tapi gue coba istighfar buat tenangin diri. Gue percaya kalo kebakarannya ga bakal menyebar sampai ke rumah gue.

Akhirnya gue telepon nyokap gue lagi sekitar setengah jam kemudian, dan ibu gue bilang apinya udah padam. Rumah di sekitar kantor itu lagi disiram, supaya kalo apinya nyala lagi, rumahnya udah aman. Ibu gue juga cerita kalo rumah udah kayak oven, panas banget. Gue agak lega begitu ibu bilang sebagian barang udah dimasukin ke rumah.

Sampai di kampus, gue smsan lagi sama ibu. Ibu cerita kalo bapak sudah di rumah, Bapak langsung terbang dari Banjarmasin ketika tau sebelah rumah kebakaran.

Semoga ini kejadian pertama dan terakhir deh di keluarga gue. Gue bisa bayangin paniknya ibu gue ketika tau sebelah rumah hangus kebakar begitu, dalam kondisi cuma ada ibu dan dua adik gue di rumah. Sekarang adik-adik gue pun trauma, melihat awan mendung aja dikira ada kebakaran. But I believe that time heals. Lama-lama trauma itu juga bakalan hilang dengan sendirinya.

Dan harapan gue adalah, semoga nama 'Kotabaru' itu bukan kutukan seperti apa yang orang bilang. Bahwa Kotabaru akan terus memperbaharui dirinya. Kata Shakespeare, "apalah arti sebuah nama?" 

2.6.13

Journal #10: Best Daddy EVER

Sepertinya dari pekan ke pekan, hari-hari gue berjalan dengan biasa aja. Bangun tidur, siap-siap kuliah, berangkat kuliah, pulang malam, istirahat, tidur, bangun lagi, ngerjain tugas, kuliah, gitu-gitu melulu rutinitasnya. Mungkin teman-teman yang lain juga punya rutinitas yang sama. Jadi agak kentang aja kalo misalnya disini gue cuma ceritain kegiatan gue. Mending gue ceritain keluarga gue aja. 

Jurnal sebelumnya udah menceritakan tentang adik kedua gue, Rio. Di jurnal kali ini, gue mau ceritain tentang bapak deh.

Sekarang bapak sedang dinas di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Banjarmasin, setelah sebelumnya bertugas di Batulicin. Baru satu minggu bapak ditugaskan di sana, dan sepertinya gak ada kendala karena sebelumnya dia sudah berdinas disana sejak tahun 1991-2001. Sekarang bapak tinggal di kost-kostan tempat dia tinggal waktu awal bertugas di Banjarmasin. Jadi, mutasi bapak dari Batulicin ke Banjarmasin itu semacam perjalanan kembali ke masa muda gitu, hahaha

Selasa kemarin ibu nelepon gue dan cerita kalo sebenarnya staf dari Batulicin yang dipindah ke Banjarmasin adalah staf-staf terbaik. Usut punya usut, bapak dipindahkan ke Banjarmasin karena prestasi beliau sebagai salah satu juru sita terbaik di Batulicin. Iya, juru sita. Dulu, tugas bapak adalah mengumpulkan data mengenai wajib pajak yang 'bandel', dan mengirimkan surat peringatan ke mereka. Kalau surat peringatan tidak digubris, maka bapak bertugas untuk memblokir harta wajib pajak bandel itu. Kalau sampai tidak mempan juga, maka bapak akan mendatangi kediaman mereka dan menyita aset yang mereka punya. Kedengarannya menyeramkan dan berat ya? 

Meamang berat. Bapak pernah sampai harus berhadapan dengan bodyguard salah satu juragan batu bara di Kalimantan yang mangkir melulu dari pajak. Bapak juga pernah diteror oleh orang gak dikenal lewat telepon, bahkan lewat SMS yang menyatakan kalau peneror itu akan mencelakai keluarga Bapak. Apalagi waktu bapak bertugas di Batulicin, gue, adek-adek, dan Ibu tinggal di Kotabaru. Jadilah peneror itu tau kalo Bapak jarang ada di rumah dan berusaha mencelakai keluarga kami. Pernah juga beberapa hari berturut-turut ada orang yang dengan sengaja mengetuk-ngetuk pintu dan jendela rumah kami waktu tengah malam. Semua kejadian cukup horor itu terjadi tiap kali bapak habis memblokir/menyita para wajib pajak itu. Tapi alhamdulillah, sampai kini kami masih sehat selalu dan Bapak juga selalu berhasil menjalankan tugasnya tanpa disakiti. Mungkin karena Bapak memiliki kemampuan persuasi yang baik.

Terlepas dari pekerjaan Bapak, gue bangga banget sama beliau. Beliau itu orang yang sangat demokratis, saking demokratisnya, bapak nggak pernah melarang gue mlakukan apapun yang gue mau. Bapak juga sosok kepala keluarga yang sangat bertanggung jawab serta protektif. Ya mungkin semua Bapak juga begitu, tapi tetap aja gue bangga hehehe. Apalagi beliau juga selalu berusaha mempertahankan integritasnya waktu bekerja. Dengan lingkungan kerja 'basah' seperti di KPP, alhamdulillah Bapak nggak pernah sekalipun makan uang yang bukan haknya. Kalau bapak sudah korupsi sana-sini mungkin keluarga gue sudah kaya raya cetar membahana deh. But that's not problem, hidup bersahaja dengan uang halal lebih makmur kok. Buktinya, badan gue bisa sebesar ini, hehehe...

Now all I can say is I miss him. Too much that I'm crying when writing this. He's my first love, I'm proud of him because of his integrity. Dan integritas beliau itu yang juga berusaha gue pegang sampai kini, sampai nanti...

Fauziah Listyo Ayunani: 10 tahun dari sekarang

Siapakah Fauziah Listyo Ayunani 10 tahun dari hari ini?

10 tahun dari sekarang, Fauziah Listyo Ayunani adalah:
  • seorang praktisi public relations di PT. Arutmin Indonesia
  • seorang pengusaha peternakan lele di Kotabaru
  • seorang warga Kotabaru yang sudah berhasil memberdayakan warganya yang pengangguran
  • seorang pemilik sebidang tanah di Kotabaru yang dibawahnya terdapat batubara kualitas A
  • seorang anak yang sudah berhasil menghajikan kedua orang tuanya
  • seorang istri dari laki-laki yang dia cintai
  • seorang ibu dari dua orang anak
  • seorang penulis yang sudah menerbitkan novelnya yang ditulis dengan kedua sahabatnya 
  • seorang penulis yang sudah berhasil mengangkat novel itu ke dalam sebuah film
  • seorang istri dan ibu yang pandai memasak dan bisa mengimbangi karier dan keluarga
  • seorang pemilik rumah kost yang penghasilannya puluhan juta per bulan
  • seorang hamba yang semakin taat ibadahnya
  • seorang Fauziah Listyo Ayunani yang tidak pernah puas dengan apa yang sudah dicapai, sehingga terus menerus mengejar mimpinya

26.5.13

Journal #9: Rio

Beberapa hari yang lalu gue sms-an sama ibu. Biasa, ngomongin hal-hal sepele sih, dari nanyain tugas kuliah sampai harga cabe rawit merah. Dan akhirnya pembicaraan gue sama beliau sampai ngebahas masalah insomnia yang diderita ibu gue. Jadi beliau itu beberapa minggu terakhir ini susah tidur, katanya sih karena banyak pikiran.

Setelah gue tanya, ternyata salah satu sumber stres ibu gue adalah perubahan yang terjadi di adik kedua gue, Rio. Sudah 2 minggu terakhir Rio banyak mengalami perubahan, mulai dari dia yang sering ngelamun sampai nilai di sekolahnya yang mulai merosot. Di sekolah dia juga suka menyendiri, nggak mau lagi main sama teman-teman dia.

Tentu saja hal ini jadi concern buat ibu. Usut punya usut, ternyata Rio bersikap seperti itu semenjak dia tau kalo bapak harus dimutasi. 

Jadi ternyata Rio itu pengen banget tinggal di kota besar, dan dia selalu senang kalo diajak ke Banjarmasin tiap lebaran atau waktu harus antarin gue yang mau berangkat ke Jakarta. Dia bosan tinggal di Kotabaru yang itu-itu aja dan nggak ada tempat hiburan. Dia juga kayanya mikir karena dia bakalan jauh dari bapak. Tapi ya, itu semua hanya dugaan ibu gue.

Karena masalah terbesarnya adalah, Rio nggak pernah bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Kalau dia lagi kesel atau marah, dia nggak pernah bisa ngungkapin. Seringnya dia diam atau tau-tau nangis. Kasihan dia :(

Padahal, Rio itu anaknya pinter banget. Di rumah, dia nggak pernah ngelepasin buku gambar karena dia hobi banget gambar. Buku bacaan favoritnya itu kalo nggak kamus bergambar ya komik Tintin. Dia juga hapal nama-nama benua, nama-nama samudra, dan juga tertarik banget sama dunia militer. Dia punya cita-cita jadi tentara di Rusia (nggak tau juga kenapa harus Rusia).

Dari cerita yang dibeberkan ibu, gue jadi kangen sama dia. Biasanya dia selalu menunggu gue pulang pas liburan, dan selama gue di rumah dia hanya mau gue yang antar dia ke sekolah. Dia juga suka minta dijajanin sama gue. Duh jadi kangen rumah gini kan :(

Gue cuma bisa berharap ibu bisa mengalihkan perhatian Rio ke arah yang lebih penting, nggak lagi mikirin bapak yang harus mutasi. Kasihan dia, soalnya sebentar lagi ujian kenaikan kelas. Kalo dia masih begini, takutnya berpengaruh ke prestasi dia di sekolah. Rio...jangan sedih lagi ya mas :")

14.5.13

Journal #8: My Mom's 43th Birthday

Jadi tanggal 14 Mei ini ibu gue ulang tahun ke 43.

Sebagai anak yang (kurang) baik gue cuma bisa ngucapin selamat tanpa bisa ngasih kado karena mau dirapel sekalian sama kado buat bapak yang ulang tahun 5 Juli nanti.

Tapi ternyata ibu pun udah merasa 'hambar' kalo diberi kado, karena keluarga gue baru aja dapat kabar yang kurang enak.

Kabar itu adalah kabar bahwa bapak di mutasi ke Banjarmasin. Iya, Banjarmasin. Kota penempatan pertama bapak ketika baru diangkat jadi PNS.

Bapak ditugaskan di KPP Pratama Banjarmasin (lagi) setelah terakhir bertugas disana pada tahun 2001. Ya meskipun Kotabaru-Banjarmasin deket dan bapak bisa sering pulang, tapi tetep aja jadi beban karena jarak antara bapak dan keluarga bakalan makin jauh. Apalagi ibu nggak ikut pindah ke Banjarmasin, dengan alasan Ajeng sama Rio masih sekolah dan bakalan ribet kalo harus pindah. Belum lagi kan keluarga gue punya rumah di Kotabaru, jadi buat apa pindah ke Banjarmasin yang udah kaya Jakarta bagian pinggir.

Jadi, keluarga gue harus hidup di 3 tempat yang berbeda. Bapak di Banjarmasin, ibu, Ajeng, Rio, Fio di Kotabaru, dan gue di Jakarta. Huft banget deh pokoknya.

3.5.13

Waktu, Rasa, dan Rindu

ada rindu dalam pesan-pesan singkat yang kita tukar semalam.

rindu yang tertutup oleh pertikaian yang belum terselesaikan.

pertikaian yang terlalu lama diendapkan hingga terlupakan.

namun selalu menjadi sandungan ketika berusaha berjalan menjauhi kenangan.

sepertinya kita berhasil untuk tidak melupakan segala memori tentang manisnya rasa yang pernah kita miliki

yang terlalu manis hingga memabukkan dan menjebak kita dalam ketidakpastian

namun rindu itu tetap tidak akan mengembalikan waktu yang dulu pernah kita ukir dengan kebahagiaan

yang ada hanya rasa yang tak pernah terungkapkan

entah sampai kapan.




20.4.13

Journal #7 : Ngalong-Week

CommCreation akhirnya usai, dan kini gue ditunggu kewajiban untuk melunasi kontraprestasi yang udah disepakati dengan media partner acara CommCreation. Tapi hal ini bisa dilakukan sambil jalan sih jadinya nggak terlalu riweuh hehehe...

Kini mahasiswa ilkom 2011 dihantui oleh tugas mini paper komunikasi organisasi yang jumlahnya ada 2, ditambah review komunikasi organisasi 2 bab, dan review teori komunikasi 4 bab.

Waktu tau tugas ini deadlinenya adalah minggu depan, gue langsung pusing, mual, badan lunglai, lesu, dan mata berkunang-kunang.

Gue mulai bingung gimana caranya supaya tugas-tugas ini cepat selesai? Gue mulai nyusun jadwal buat ngerjain tugas-tugas yang keliatannya tiada bertepi itu, tapi kenyataannya...............gue kebanyakan tidur dan tugas-tugas itu gue selesaikan di detik-detik terakhir sebelum dikumpulkan.

Minggu ini juga dihiasi dengan persiapan acara C-Project punya HMILKOM. Minggu ini juga pertama kalinya gue 3 malam berturut-turut pulang jam 12 dini hari, dan 3 malam berturut-turut juga gue jadi anak gaul McDonal*'s buat menyelesaikan segala tugas itu dan rapat persiapan C-project.


Pada akhirnya tugas-tugas itu selesai juga sih, dan baru gue bisa bernapas dan tidur dengan tenang. Setelah sebelumnya nyelupin kepala dalam ember berisi air saking panasnya kepala gue di hadapan laptop hampir 5 jam non-stop.

Semoga semua pengorbanan dan kerja keras itu nggak sia-sia deh. Dan hikmahnya dari pengerjaan tugas serta rapat-rapat itu adalah, setidaknya gue punya waktu banyak untuk bersosialisasi dengan teman-teman dan mengenal mereka lebih dekat lagi dari obrolan-obrolan ringan selama ngerjain tugas atau rapat. Meskipun sederhana, tapi ini merupakan salah satu hal positif yang gue syukuri dari himpitan tugas dan aktivitas ngalong di pekan ini :)

12.4.13

Journal #6: Thanks to CommCreation and all of those tasks

Mungkin ini adalah pekan paling hectic di bulan ini.


Gimana enggak, selain tugas kuliah yang (masih) dan bahkan tambah membengkak jumlahnya, minggu ini juga minggu dimana CommCreation diadakan!

Itu artinya, gue harus ekstra keras membagi waktu antara ngurusin CommCreation dan juga memperlakukan tugas-tugas kuliah itu sebagaimana mestinya.

Minggu ini juga kali pertama gue bikin 2 review yang dikumpulin pada jam 2 siang, tapi mulai ngerjain jam 6 pagi (dan jam 10 ada kelas). Minggu ini bisa dibilang minggu-ngerjain-tugas-paling-berantakan selama gue kuliah *lebay*

Tapi acara CommCreation yang sukses bener-bener bisa buat gue bernapas lega di akhir pekan ini. Dan yang paling ngelegain adalah bahwa di hari minggu, 14 April, gue nyadar kalo pinggul gue mengalami penyusutan ukuran. Yeaaaay! Ternyata waktu yang dikuras untuk tugas dan kepanitiaan berhasil menurunkan berat badan gue *sujud syukur*

Ditambah lagi ada kejadian nyebelin dan males gue ceritain yang bikin gue makin bersemangat untuk diet. Tujuan utamanya adalah untuk menghindari omongan orang mengenai bentuk tubuh gue, dan pastinya supaya lebih gampang cari ukuran baju HAHAHA.

6.4.13

Journal #5 : The Beginning of Bloody Week(s)

Semester 4 mulai menunjukkan taringnya.

Tugas-tugas yang makin bertumpuk membuat waktu mahasiswa jadi terbuang untuk hura-hura..............bersama tugas-tugas itu. Hehehe. *garing* *biarin*

Belum lagi dengan deadline untuk CommCreation yang semakin dekat. Antara rasa deg-degan karena acaranya sebentar lagi, dan rasa males buat fokus kesana karena dijajah oleh tugas-tugas kuliah.

Tapi ada yang menyenangkan di minggu ini. Minggu ini, pre-event CommCreation diadakan, trus acaranya seru banget! Dan yang bikin makin excited adalah pre-event ini juga pertama kalinya gue diberi tugas untuk livetweet sepanjang acara. Meskipun gue suka ngetwit di akun pribadi (dan itu gampang), tapi livetweet ternyata susah abis. Cuma ada hikmahnya, akhirnya jadi ngerasain kan menjadi admin twitter yang baik itu gimana :p

Oh iya, minggu ini juga gue mulai mengganti nasi putih yang biasa gue makan jadi nasi merah. Karena eh karena nasi merah lebih banyak mengandung serat, jadi kita nggak cepat lapar. Dan konon katanya kadar gula dan lemaknya rendah, jadi bagus buat diet! Targetnya sih semester ini bisa turun minimal 5kg :D

Intinya, meski bisa dibilang minggu ini adalah awal dari minggu berdarah, minggu yang penuh deadline dan artinya waktu tidur jadi berkurang, tapi banyak hal menyenangkan yang bisa diambil di minggu ini. Sesuai prinsip gue, bahwa dalam keadaan terburuk pun kita harus pintar mencari celah untuk mengambil sesuatu yang positif dari hal itu, supaya kita tetap bersyukur dan bahagia!

31.3.13

Journal #4 : Lenyap Tergerus Waktu

Sekarang gue lagi keranjingan mainan Soundcloud.

Entah kenapa gue suka aja ngerekam suara gue yang lagi nyanyi dengan efek yang setara dengan sinar penghancur itu, lalu membagikannya lewat Twitter. 

Judul dari postingan di Soundcloud gue sih selalu ada kata 'cover'-nya. Padahal juga nyanyi tanpa musik. Ada juga suara deru kipas angin di belakang gue, hehehe...

Dan rekaman di akun gue juga baru dua ._. Ga penting banget kan?

Tapi harus gue akui kalo kemampuan jarang diasah tuh pasti lama-lama bakalan hilang. Gue bisa nyanyi (bisa doang, ga sebagus Celine Dion atau Ayu Ting-ting), dan waktu SMA sempat jadi vokalis band selama 2 tahun, tapi karena setelah lulus gue nggak pernah nyanyi lagi, gue merasa suara gue jadi sember banget. Fals, napasnya pendek, vibranya jelek, pokoknya nggak banget.

Gue sering rindu manggung tapi karena gue nggak ikut kegiatan vokal apapun, jadi kerinduan itu gue lampiaskan dengan karaokean atau menggelar konsel tunggal...di kamar mandi. Tapi setelah gue ingat dengan password akun Soundcloud yang sudah gue buat sejak 8 bulan lalu, gue pun akhirnya beralih ke Soundcloud. 

Meskipun suara gue nggak bagus, tapi seenggaknya gue nggak mau keterampilan vokal gue hilang tergerus waktu karena nggak pernah diasah. Walau mengasahnya hanya lewat Soundcloud, tapi gue berharap suatu hari nanti gue bisa kembali ke panggung lagi dengan kemampuan yang lebih matang.  Ga yakin sih tapi berharap kan nggak ada salahnya :))

23.3.13

Journal #3: Ketika Suara Kita Tak Didengar

Jadi weekend kemarin gue bantuin temen-temen panitia acara kampus nyari dana buat acara. Dan agendanya adalah kita bikin garage sale gitu di pasar tradisional. Gue yang belum pernah merasakan jualan barang bekas pun dengan bersemangat ikutan acara itu. 

Ternyata jualan itu nggak mudah. Kita udah jualan dengan harga yang miring banget dan dengan kualitas barang yang boleh lah, tapi jarang banget ada pembeli yang mampir untuk beli. Jangankan mampir, ngelirik aja jarang :( 

Gue yang emang nggak berbakat jualan pun berusaha membuang malu dengan teriak-teriak laksana mbak-mbak ITC: "Boleh ibu...bajunya ibu...dilihat dulu ibu...". Gue udah ga peduli lagi sama debu jalan yang nempel dan teriknya matahari. Yang pasti gue mencoba yang gue bisa, menawarkan barang dagangan kita ke orang-orang yang lalu lalang.

Tetapi pada akhirnya karena ada berbagai hambatan, dagangan kita nggak begitu laku dan keuntungan yang didapat nggak sebanyak waktu jualan minggu sebelumnya. Tapi nggak apa-apa lah, Tuhan nggak tidur. Usaha keras yang dilakukan pasti membuahkan hasil manis. Semoga...

14.3.13

Journal #2: BB-ku Sayang, BB-ku Malang

Gue ga tau apa rencana Tuhan.

Setelah minggu lalu LCD laptop gue rusak dan harus diganti demi kemaslahatan hidup mahasiswa, kali ini BlackBerry gue yang rusak.

Sebenarnya itu salah gue juga sih yang bawa-bawa BB waktu ke toilet. Pas di dalem toilet itu hape meluncur dengan indahnya dari saku jaket gue dan alhamdulillah (masih bersyukur) jatuhnya ke lantai yang kering. Tapi setelah itu, 3 dari 4 tombol di hape gue tersayang itu rusak sak sak sak alias nggak berfungsi lagi.

Karena hari itu gue pulang malam, maka rencananya baru besoknya mau gue bawa ke tukang service. Besoknya, pas gue udah mau nyampe ke tukang servicenya, tiba-tiba.........layar hape gue jadi item tem tem seitem-itemnya. Nggak bercahaya, nggak ada gambarnya. Saat itu, rasanya gue pengen melenyapkan diri digiles eskalator.

Gue pun nekat tetap ke tempat service hape dan mbak-mbak penjaganya bilang kalo biaya buat benerin itu hape adalah sebesar enam ratus tujuh puluh lima ribu rupiah. Gile lu ndro! Ya mending gue beli hape baru lah ya...

Singkat cerita, hape itu gak nyala dalam beberapa hari setelahnya dan gue harus bertahan dengan hape Nokia 1208 yang cuma bisa buat telepon dan SMS. Dua haris setelah meninggalnya BB gue itu, bapak ngirimin device baru buat ngeganti BB gue yang rusak. Tapi, dengan ajaib, itu BB nyala dong men. NYALA! Ya meskipun tombolnya tetap ga bisa dipake.

Alhasil, karena gue sudah terlanjur dibelikan device baru, maka gue pun memutuskan untuk memperbaiki tombol BB lama itu, biar tetep bisa dipake. Rencananya sih itu BB mau gue kirim ke rumah dan dipake sama Ajeng, adek gue yang paling pertama.

Jadi begitulah. Gue juga ga ngerti kenapa bulan ini banyak banget musibah yang menimpa gue. Tapi gue ambil positifnya aja:
  1. Gue jadi lebih hati-hati dalam memakai peralatan elektronik. Gue nggak pernah lagi bawa hape ke toilet semenjak kejadian itu. Device baru gue pun gue pakein holster biar terlindung.
  2. Dengan adanya musibah ini, gue juga makin yakin kalau Tuhan sayang sama gue. Buktinya, Dia masih peduli sama gue, meskipun kasih sayang-Nya Dia tunjukkan melalui cobaan.

5.3.13

Journal #1 : Minggu Pertama Penuh 'Pesona'


Jangan tertipu judul.


Mungkin selama ini saya kurang sedekah, kurang berbuat baik, kurang bersyukur. Dan pastinya, kurang menjaga barang-barang yang saya miliki, hingga akhirnya dua benda penting di kehidupan anak kost dan mahasiswa milik saya rusak di waktu yang hampir bersamaan. Dan untuk memperbaikinya, saya harus rela separuh uang saku saya disunat.

Namun, ada beberapa pelajaran yang saya ambil dari kejadian di minggu pertama bulan Maret ini. Yaitu :

  1. Saya harus lebih berhati-hati dalam menjaga dan merawat kepemilikan saya. Bagaimanapun juga itu adalah barang yang dibeli dengan uang orang tua saya. Saya tidak punya kuasa untuk merusaknya.
  2. Saya menjadi lebih tenang dan tidak panik ketika menghadapi situasi genting. Karena ayah saya memberi tahu bahwa ketika kita panik, kita tidak bisa berpikir jernih, sehingga kita hanya merutuki masalah, bukan mencari jalan keluarnya.
  3. Saya menjadi lebih irit karena uang jajan saya harus dipangkas demi memperbaiki LCD laptop.
Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Ini memang takdir, tapi takdir bisa kita ubah jika kita mau.

3.3.13

Balada Hape yang Tertinggal

Halo. Lama sudah tidak menulis di blog ini :p Padahal liburan lho sepanjang februari tadi. Tapi ya begitulah, kalau pulang ke rumah, laptop menjadi susah sekali untuk disentuh karena selalu direbut si Rio buat main game. Selain itu hawa rumah yang adem, ditambah dengan rutinitas ngantar-Rio-kemudian-ke-pasar-kemudian-jemput-Rio-kemudian-bantuin-ibu-masak yang harus dilakukan tiap Senin-Sabtu membuat ide-ide buat mengisi blog ini entah kenapa hilang begitu saja. Bukannya sok sibuk, hanya mencoba untuk menjadi anak yang tahu diri dengan meringankan tugas ibu.

Nah, tapi kali ini bukan mau menceritakan kegiatan apa saja yang sudah dilakukan selama liburan kemarin. Kali ini mau ceritain kejadian pada pagi 1 Maret lalu.

Jadi pagi itu gue, ibu, Ajeng, Rio, Fio mau bertolak ke Batulicin buat nyamperin bapak. Rencananya malamnya baru pada cus ke Banjarbaru, karena besoknya gue sudah harus terbang ke Jakarta. Kenapa bukan bapak aja yang jemput ke Kotabaru, karena ongkos feri kalo bawa mobil lumayan mahal yaitu sekitar 125ribu, jadinya kita berlima yang ngalah buat naik bus ke Batulicin yang ongkosnya cuma 30 ribu per orang.

Pagi itu lumayan hectic karena membangunkan balita berumur 2,5 tahun tanpa membuatnya nangis bukanlah perkara mudah. Belum lagi kerjaan domestik seperti membuat sarapan, bersihin rumah, dan menjemur pakaian yang harus segera diselesaikan karenjam 7.30 pagi harus sudah berada di terminal.

Pagi itu gue nyantai banget. Bikin sarapan, mandiin Fio, trus beresin kamar dan barang-barang gue. Sebelumnya gue setelin laptop buat Fio yang nangis minta nonton film kartun. Di sebelah laptop gue ada hape kecil Nokia 1208 gue yang imut dan unyu itu. Begonya, gue gak langsung masukin tuh benda krusial ke tas gue.

Terus setelah itu gue siap-siap. Habis mandi, gue sarapan, trus sikat gigi, terus berbenah diri. Jam 7 pagi kita semua sudah siap dan standby di depan rumah nungguin taksi yang mau angkut kita ke terminal. Terminalnya lumayan jauh sih, sekitar 6km dari rumah.

Selama nunggu taksi, gue merasa ada yang ketinggalan. Waktu itu pintu belum dikunci, tapi tas gue udah di teras semua. Gue udah pengen masuk ke dalam buat ngecek kamar gue untuk terakhir kali sebelum berangkat, tapi entah kenapa mager banget. Trus nggak lama taksinya datang dan si Ajeng ngegembok pintu rumah.

Yaudah, kita akhirnya ke terminal. Di jalan gue tenang-tenang aja. Pas sudah sampai di km 4...gue baru nyadar kalo HAPE KECIL UNYU GUE ITU KETINGGALAN MEN. Ketinggalan!

Gue mulai panas dingin. Gue langsung bilang ke nyokap, "Bu, hape kecil kayaknya ketinggalan deh." Trus nyokap juga panik kan, dan menyuruh gue untuk telpon itu hape. Tapi kami semua nggak ada yang denger suara dering hape itu...

Gue pengen nangis. Pasalnya nomor yang ada di hape itu lagi diperlukan banget sampai pertengahan maret nanti. Seandainya nomor untuk contact person acara kampus itu nggak pakai nomor itu mungkin gue nggak bakalan panik. 

Gue pun minta sama nyokap untuk kembali ke rumah buat ngambil hape itu. Pas udah sampai di terminal, nyokap nanya ke supir busnya dan bilang apakah mau nunggu gue yang mau ngambil hape dulu. Tapi si supir dengan nyebelinnya bilang, "Kada kawa bu ai. Jam 8 tulak dah, kada kawa menunggui lagi." (Terjemahan: "nggak bisa bu. Jam 8 udah berangkat dan nggak bisa nunggu lagi.)

Gue makin panik dan hampir nangis. Terus muncul ide cemerlang di kepala gue.

"Bu, Mbak Ulis pulang aja ya. Nanti biarin ditinggal, Mbak Ulis nyusul ke Batulicin naik motor."

Tapi nyokap gue nolak karena kasihan ngeliat gue yang harus ke Batulicin naik motor. Ya bayangin aja ya perjalanan dari rumah ke pelabuhan ferry adalah 40km, kemudian naik kapal ferry 30 menit, terus ke pusat kota Batulicinnya sekitar 3km. Padahal gue mah fine-fine aja kalo harus naik motor, tapi sebagai anak yang baik gue pun mengurungkan niat untuk naik motor.

Gue pun akhirnya nekat balik ke rumah dengan menumpang taksi. Waktu itu udah jam 8.40 dan gue berharap gue bisa tiba di terminal lagi tepat jam 8. Tapi ternyata si supir taksi nyetirnya leleeeeeeeet banget. Alhamdulillah di tengah perjalanan nyokap telpon dan bilang, "Kamu udah ibu beliin tiket bus lagi. Ntar ikut bus yang satunya jam 9 ya. Ibu udah mau berangkat, nanti ketemu di Batulicin aja. Nanti dijemput bapak kok." 

Dalam hati gue lega karena nggak harus buru-buru. Tapi di sisi lain gue bete karena harus terpisah dari ibu dan adek-adek gue. Tapi gak apa-apa deh, yang penting gue berhasil mengambil hape gue dan gue tetap sampai di Batulicin. Yes!

Gue pun tiba di rumah dengan selamat pada pukul 8.05 (padahal biasanya dari terminal situ paling 10 menit doang). Gue langsung masuk kamar dan ya, si hape kecil itu tergolek lemas di lantai tempat gue naruh laptop tadi pagi. Gue langsung mengambil hape itu dan memasukkan ke dalam tas. Trus gue menyisir seluruh isi kamar lagi buat memastikan kalo tidak ada yang ketinggalan. Gue juga masih sempat duduk di kamar ibu sambil kipasan hahaha.

Gue kemudian teringat kalo charger itu hape nggak gue lihat semenjak hari pertama gue tiba di rumah. Gue pun nyari-nyari lagi, tapi hasilnya nihil. Akhirnya karena sudah hampir jam 8.30, gue langsung ngunci rumah lagi dan bergegas kembali ke terminal. Sedangkan si ibu dan adek-adek gue sudah setengah perjalanan menuju pelabuhan ferry.

Yaudah, gue mikir gampanglah entar kalo emang hilang ya beli lagi yang bajakan. Atau mungkin itu charger kebawa sama bapak. 

Akhirnya jam 9 pagi gue meluncur ke Batulicin. Sekitar jam 11 kapal ferry yang gue tumpangi merapat dan gue di drop si supir bus di salah satu sudut kota Batulicin. Gue pun nunggu bapak yang mau jemput disitu.


Ya begitulah ceritanya. Meskipun ketinggalan hape, tapi ternyata gue berhasil mengambil hape itu kembali dan tiba di Batulicin. Jam 6 sore gue dan keluarga pun meluncur menuju Banjarbaru, dan tiba disana sekitar jam 12.30 dinihari.

Pelajaran yang bisa gue ambil dari kejadian ini adalah:
  1. Jangan pernah lupa untuk menyisir lantai rumah sebelum bepergian. Siapa tahu benda-benda kecil seperti hape ternyata tergeletak disana.
  2. Selalu packing beberapa hari sebelum bepergian, agar tidak terburu-buru hingga ada yang tertinggal.
  3. Jangan memilih moda transportasi seperti taksi jika mengalami kejadian kayak gue. Ojek bakalan lebih cepat dan membuat Anda tidak harus ketinggalan bus.
Gitu deh. Sekarang gue udah di Jakarta dan berusaha keras melawan homesick yang mulai menyerang. Biasa, minggu-minggu pertama pasca liburan pasti begini. Tapi palingan besok udah hilang hehehe.


3.2.13

Masa lalu itu cukup kita -kau dan aku- simpan sendiri. Tidak ada gunanya mengumbar semuanya di depan teman-temanmu. Tidak ada gunanya kau berusaha menjelekkan namaku. Tidak ada gunanya kau terus menyebutku seorang yang gemar bermain api. Aku tidak akan peduli, apalagi kembali padamu. 

#memories

30.1.13

Secangkir Kopi

Aku bisa menjadi secangkir kopi bagimu
Hitam pekat namun manis. Temanmu dikala kau harus berkutat dengan tugas-tugasmu di malam hari. Temanmu dikala penat. Temanmu dikala kau ingin terlepas dari jeratan kehidupan yang terkadang jahat.

Aku bisa menjadi secangkir kopi bagimu
Menyapamu di pagi hari dengan aromanya yang menggoda. Menyulut semangatmu untuk menjalani hari-harimu. Menjadi hal pertama yang engkau cari ketika kau bangun dari tidurmu.

Namun jangan jadikan aku seperti kopi yang lain
Yang hanya menjadi selingan di hari-harimu. Yang kau cari ketika rasa kantuk menyergapmu. Yang terkadang kau hindari demi kesehatanmu.

Tetapi yang aku dengar, kau tidak meminum kopi.
Lalu, apakah kau akan mencariku? Menjadikanku teman di harimu? Atau kau menghindariku? Ataukah...karena kau tidak meminum kopi, kau tidak akan menjadikanku selingan belaka?


#inspirasisore

27.1.13

Turning Point

Ini adalah titik balik dari semuanya. 

Dan akhirnya apa yang aku takutkan terjadi. Apa yang selama ini hanya kudengar dari orang lain, kini benar-benar aku ketahui. Secara langsung darimu. 

Tapi aku tetap berusaha mendukungmu, semua untuk kebaikanmu. Aku senang mengetahui kau sudah menemukan orang yang kau mau. 

Ah, tapi akupun tak yakin. Apakah itu perasaan senang ataukah aku yang hanya berpura-pura dan memakai topeng untuk menutupi kesedihanku?

25.1.13


No matter how much you get hurt, how much your heart broken then fixed then broken again, how much your tears wasted for stupid things, how much you fall and rise again for catching someone... Love is always succeed to make it better. There is always a reason to believe that love is a greatest cure for every suffer :)

A man will climb the highest mountain
Fly to the moon and come back home
But I can’t live Without Your Love

I stand up high in the pouring rain
Have flashing thunder on my head
But I still won’t live Without Your Love

Everybody can laugh at my face
Till their jaws touched the ground
I will be counting the days till I can run to you
Rainfall will through and my work here is done
And I’ll come home to you

A man swim the deepest ocean
Some will sail around the world
But I can’t live Without Your Love

I’ll stand alone on a cemetery
Search the world of the undead
But I still won’t live Without Your Love

I give a little more
I walk a little further
Fly a little higher
To get to you

W.Y.L. - Adhitia Sofyan

24.1.13

24 Januari 2013

Entah sudah berapa kali aku duduk di sini. Sendirian, bersamamu, atau bersama sahabat-sahabatku.  Namun yang aku pikirkan setiap aku duduk di sini selalu sama. 

Selalu dirimu. Tepatnya perasaanku padamu. Perasaanku yang tidak pernah berubah. Selalu sama manisnya, selalu sama pekatnya. Perasaan yang terlalu dalam, hingga membuatku hanyut dan tak bisa kembali ke permukaan...

-F.L.A-

19.1.13

Siapa Aku?

Siapa aku dibandingkan dengan teman-temanmu? Teman-teman yang selalu ada untukmu dikala kau senang. Iya, hanya di kala kau senang. Temanmu saat tertawa bersama dan bersenang-senang saja.

Siapa aku dibandingkan perempuan-perempuan itu? Mereka memiliki wajah cantik dengan tubuh semampai yang sangat menarik. Ya, hanya raga mereka. Nyatanya, mereka tidak memilihmu, bukan?

Kau tahu?
Akhir-akhir ini aku merasa kita semakin jauh. Tidak ada senyum yang dilemparkan, tidak ada sapa yang terucap. Tidak ada obrolan panjang di tengah malam, meskipun hanya melalui pesan singkat. Tidak ada keluhmu yang selalu siap kudengar, tidak ada candamu yang selalu bisa membuatku tertawa.

Mungkin aku salah. Aku yang  mendorongmu untuk tidak selalu lari kepadaku jika kau memiliki masalah. Tetapi semua untuk kebaikanmu. Aku tidak ingin kau tumbuh menjadi laki-laki yang manja. Aku ingin kau hidup di atas kakimu sendiri. 

Aku akan selalu ada untuk mendengarkanmu, tetapi aku tidak bisa menjanjikan solusi atas semua masalahmu. Aku memiliki kehidupanku sendiri. Aku memiliki masalahku sendiri. Hidupku tidak hanya untuk dirimu...

Aku terima kenyataan bahwa saat kau senang, kau tidak pernah mengingatku. Saat kau akan pergi, kau tidak pernah mengajakku. Ya, kau hanya ingat dengan mereka, teman-temanmu. Tetapi lihat aku. Aku selalu ada ketika kau membutuhkanku. Aku selalu ada ketika kau sedang dibelit oleh masalah yang tak kunjung usai. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu sebelumnya, tetapi kini aku menyadari satu hal. Bahwa...

Aku pelarianmu belaka.

Awalnya aku tahan, namun lama-lama aku bosan. Aku lelah dengan semua kepura-puraan yang aku sembunyikan sejak satu tahun belakangan. Aku lelah berpura-pura menjadi sahabat yang baik sementara hatiku menginginkan lebih. Aku lelah memberi perhatian padamu namun tidak kau sadari. Aku lelah mempedulikan dirimu namun kau tidak pernah mempedulikanku. Namun aku tidak bisa keluar dari semua ini! Pesonamu menjeratku semakin erat, kau membawa hatiku semakin jauh dan jauh tanpa bisa kurebut kembali. Kau membuatku jatuh namun kau enggan menarikku untuk bangkit...

Siapa aku dibandingkan teman-temanmu? Aku sahabatmu. Aku mencintaimu, meski kau tidak pernah tahu. Aku selalu ada dikala kau membutuhkanmu, tak peduli selelah apapun dan seberat apa hatiku. 

Siapa aku dibandingkan perempuan-perempuan itu? Yang pasti aku mencintaimu. Aku pun memilihmu. Aku biarkan hatiku kau rebut dan kau bawa lari tanpa bisa aku peroleh kembali. Aku biarkan aku jatuh meski tak kau tarik kembali.

Dan yang pasti, dibandingkan mereka semua, aku akan selalu membuka pintu itu...untuk menerimamu, bagaimanapun keadaanmu.

*ditulis sebagai ide awal dari sebuah pengerjaan proyek dengan dua blogger lainnya*

13.1.13

Age is (not) just a Number

Hai! Apa kabar? Gimana awal tahunnya? Semoga resolusi yang dibuat di awal tahun tetap dijaga ya...

Gue tiba-tiba inget kalo tinggal menghitung hari aja gue udah meninggalkan usia belasan dan masuk ke usia kepala 2. Yes, muka gue emang dewasa dan terlihat lima tahun lebih tua, tapi usia gue masih 19. Hampir masuk 20. Entah kenapa nyadar kalo mau masuk 20, gue merasa perlu memperingatkan diri sendiri bahwa gue bukan anak kecil lagi.

Gue anak pertama dari 4 bersaudara dan 7 tahun lagi bapak sudah mau pensiun. Jelas, gue yang akan diandalkan oleh keluarga gue untuk memimpin ketiga adek gue yang masih kecil-kecil. Dan sampai hari ini, gue merasa gue nggak pernah melakukan sesuatu yang berarti untuk memulai usaha gue dalam memimpin adek-adek gue. Baik secara materi maupun non materi.

Agak kaget aja gitu kalo lima tahun lagi usia gue sudah 25 dan artinya gue harus segera mencari orang yang bakal duduk di pelaminan bersama gue nanti. Hm, nggak cuma masalah jodoh, gue juga mikir kalo sebentar lagi gue harus terjun ke dunia kerja demi menghidupi diri. Gue nggak bisa lagi hidup bergantung dari orang tua gue. Gue harus bener-bener independen. 

Dan gue merasa gue belum siap untuk itu semua.

Orang bilang 'age is just a number'. Bagi gue nggak begitu. Usia itu menunjukkan siapa kita dan seberapa dewasa kita. Kalo orang tau umur lo berapa dan ternyata lo belum menghasilkan apa-apa di umur lo yang sudah segitu, apa kata dunia? Emang sih 'f*ck what other say' tapi emangnya lo tahan dinyinyirin banyak orang karena lo belum dapat kerja di umur 26, misalnya? Naudzubillahimindzalik.

Gue juga baru menyadari kalo gue sudah semakin tua ketika salah satu temen gue curhat ke gue. Dan gue ngasi wejangan ke dia kalo dia itu cowo dan sudah gede. Intinya gue ngasi tau dia supaya dia lebih berani aja dalam hidup. Ya, dan gue jadi mikir, gue sama dia seumuran, berarti saran gue ke dia itu harusnya gue aplikasikan ke gue juga dong? 

Gue merasa gue perlu keluar dari zona nyaman yang selama ini gue nikmatin banget. Gue nyadar usia gue terus bertambah dan karenanya jatah hidup gue juga berkurang. Gue harus bisa menorehkan sesuatu di hidup gue. Yang berguna, tentunya. Gue nggak bisa berdiam diri doang. Dan ya, gue harus bisa ngebuktiin kalo apa yang gue lakuin, setara dengan angka di usia gue. Semoga...