Kita teman dan saling mengenal, meskipun tidak terlalu dalam.
Namun aku tidak pernah menyangka rasa itu datang. Merayap perlahan, dari mata yang hanya kagum akan paras, hingga akhirnya turun ke hati. Hingga rasa sayang dan ingin memiliki itu menggerogoti akal sehat. Hingga satu senyuman dan kerlingan mata sepintas pun menjadi hal yang sangat menyenangkan.
Kita teman dan saling mengenal, namun sering terpisah jarak.
Aku dan dirimu jarang berjumpa. Jika berjumpa pun amat jarang bertegur sapa. Senyuman indah untukku yang selalu kukagumi itu pun jarang terlihat. Jikalau aku melihatnya pun, senyuman itu kau lemparkan untuk orang lain, bukan untukku.
Kita teman dan saling mengenal, dan aku mencintaimu.
Aku selalu menantikan waktu dimana kita bisa saling berbincang. Aku selalu menantikan waktu ketika kita bisa bercanda dan saling bertukar senyum.
Kau tak tahu rasanya,
ketika kau menatap tepat ke mataku. Ketika kau tersenyum kepadaku. Ketika aku tahu kau meluangkan waktumu hanya untuk menemuiku...
Kau tak tahu rasanya,
ketika dalam satu hari aku tidak melihatmu. Ketika dalam satu hari tidak ada kabar darimu. Ketika dalam satu hari aku tidak melihat matamu yang tajam dan senyumanmu yang indah.
Namun semua itu berubah menjadi rasa lega ketika aku melihatmu, meski dari kejauhan.
Kau tak tahu rasanya
mencintai orang yang kau sadari tidak akan pernah membalas perasaanmu. Mencintai orang yang hanya bisa kau pandangi dari kejauhan. Mencintai orang yang hanya bisa kau kagumi tanpa bisa kau ungkapkan. Mencintai orang yang hanya bisa kau rindukan. Mencintai orang yang hanya bisa kau tunggu namun tak kunjung datang...
Kau tak tahu rasanya
sakitnya mencintai dalam diam.
No comments:
Post a Comment