Dira melirik jam
yang digantung di dinding kamarnya. Sudah jam 8 pagi. Dira menguap dan
mematikan drama Korea yang ia tonton dari laptopnya sejak tadi malam. Ia
mengambil cermin kecil di meja laptopnya, dan melihat matanya yang bengkak.
“Duh Dira...
Kalau nonton jangan bawa perasaan dong. Sudah berapa kali nangis nih dalam
semalem,” gumamnya sambil memandangi wajahnya di cermin itu.
Ia kemudian
beranjak dan berjalan menuju pintu kamarnya. Ia membuka pintu dan ternyata di
depan kamarnya sudah berdiri Mbak Inah dengan sebuah paket di tangannya.
“Eh, neng
Dira... Baru aja saya mau ngetuk pintu. Ini, ada kiriman,” ujarnya seraya
menyerahkan paket itu pada Dira.
“Dari siapa,
Mbak?” tanya Dira.
“Eh... Dari
teman neng Dira yang ganteng itu... Mas Hanung. Dia tadi pagi kesini, pagi
banget, Neng. Tapi dia nggak mau masuk ke dalam rumah karena dia tahu Neng Dira
pasti belum bangun,” jawab Mbak Inah.
Hanung? Tumben,
batin Dira. Dira pun mengangguk dan menerima paket itu. Ia kemudian kembali
masuk ke kamarnya dan membuka paket itu. Ia bertanya-tanya apa sebenarnya yang
dikirimkan Hanung. Dibilang buku, terlalu tipis. Baju, mana mungkin. Sebelum
membuka paket itu, ia mengecek telepon genggamnya, mencoba mencari tahu apakah
Hanung memberi kabar tentang paket itu. Tetapi, hasilnya nihil.
Dira pun membuka
paket itu dengan tidak sabar. Di dalamnya, ada bungkusan ungu dengan hiasan
pita emas diluarnya. Perasaan Dira langsung tidak enak. Ia kemudian melepas
ikatan pita itu dan membuka bungkusan
ungu itu.
“Hanung pasti
bercanda nih. Mana mungkin sih? Kenapa dia nggak cerita sama sekali ke gue...”
batin Dira.
**
Untuk Hanung, sahabat rekatku yang paling
kusayangi,
Ketika kau membaca surat ini, mungkin aku
sedang duduk di bangku taman di pinggir jalan yang sudah mulai tertutup salju.
Ya, musim dingin telah tiba dan seperti yang kau tahu, ini pertama kalinya aku
merasakan musim dingin. Sekali lagi aku berterima kasih atas mantel panjang
berwarna merah yang kau berikan padaku sebagai hadiah ulang tahunku tiga tahun
yang lalu. Akhirnya, aku memakai mantel itu, meskipun saat aku menerimanya
dahulu, aku mencibirmu karena aku tahu aku tidak akan pernah memakai mantel
konyol itu di Jakarta yang panas.
Tapi sekarang, aku tahu bahwa mantel itu
akan benar-benar menghangatkanku di sini. Terimakasih, ya.
Maafkan aku yang memintamu untuk membaca
surat ini tiga hari setelah aku menitipkannya pada teman baikmu. Aku percaya
bahwa ia juga pasti akan memberikan ini tiga hari setelah aku menitipkannya.
Maafkan aku yang tiba-tiba menghilang dari radarmu. Aku berharap kau tidak
mencariku.
Maafkan aku atas segalanya. Atas pertanyaan
yang sudah empat tahun terakhir kupendam. Atas segala kerisauan yang tak pernah
terungkapkan. Atas semua rasa yang kurasakan sendiri. Atas segala pahit yang
kutelan sendiri. Atas segala sakit yang berusaha kuobati sendiri. Maafkan aku
yang menyembunyikan satu rahasia itu darimu, Hanung.
Terimakasih karena kau sudah menjadi
laki-laki paling baik yang pernah kukenal selama aku duduk di bangku kuliah.
Terimakasih karena kau sudah menjadi satu-satunya teman yang setia menemaniku
menghadapi semua rintangan yang menghalangiku. Menjadi satu-satunya teman yang
tetap ada ketika aku menghadapi titik terendah dalam hidupku. Dan menjadi teman
yang mau diajak berpesta di dini hari ketika aku berhasil menyelesaikan
skripsiku.
Aku tahu aku menanam benih yang salah. Aku
tahu aku merawatnya dengan pupuk terbaik sehingga ia tumbuh subur dan berbunga
indah. Namun, seminggu yang lalu, aku memutuskan untuk mencabutnya dan mematikannya.
Aku tidak ingin membiarkannya tumbuh besar dan berbunga lebih banyak lagi, lalu
kemudian mati oleh waktu.
Aku tahu aku salah, karena aku mencintai
orang yang salah. Aku seharusnya tidak jatuh cinta kepadamu. Aku seharusnya
tahu siapa diriku dan siapa dirimu. Sekali lagi, ini bukan salahmu. Ini
salahku. Aku yang memulai dan melibatkanmu dalam permainanku yang mematikan.
Aku yang mengajakmu berjalan di atas api dan kemudian membuatmu hangus oleh
keadaan.
Tapi, kini kau boleh berbahagia. Aku sudah
pergi jauh sekali dan kuharap kau tidak akan pernah mencariku. Kini, aku sudah
melepasmu. Kau boleh pergi kemanapun sesukamu dan kau tidak harus kutarik
dahulu menuju mobilku untuk mengikutiku kemanapun aku pergi. Kini, aku sudah
membebaskanmu.
Hanung yang baik hati,
Cinta yang kumiliki memang terlalu naïf dan
tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan aku tidak berani mengungkapkannya
padamu. Aku hanya berani mengungkapkannya melalui surat ini. Maaf, ya. Kurasa
memang ini waktu yang tepat untuk memberitahukannya padamu. Tapi, tenang saja.
Aku tidak akan menaruh harapan apa-apa. Aku hanya ingin kau mengetahuinya.
Bahwa sejak pertama kali kita bertemu di
hari pertama OSPEK waktu itu, aku sudah jatuh hati padamu. Dan aku merasa
beruntung sekali bisa bersahabat denganmu dan banyak menghabiskan waktu
denganmu, meski di saat yang sama aku merasakan pahit karena tak bisa
memilikimu seutuhnya.
Itu saja, Hanung.
Ohiya, sebelum lupa. Selamat menempuh hidup
baru dan selamat berbahagia. Semoga kau bisa semakin dewasa dan bertanggung
jawab. Cepat mendapat momongan, ya! Aku tidak sabar mendengar bahwa kau akan
segera menimang bayi dan menjadi Ayah :). Maaf aku tidak bisa
hadir di hari bahagiamu.
Aku pasti merindukanmu. Jika aku bisa
kembali ke Jakarta, aku berjanji akan mengabarimu. Jangan pernah berganti nomor
telepon dan e-mail, ya.
Salam hangat,
Dira Novilia
Hanung terduduk
di ujung tempat tidurnya setelah membaca surat itu. Air mata perlahan turun
menjatuhi pipinya. Ia membaca surat itu berkali-kali, kemudian ia mencubiti
lengan dan pipinya, berharap itu hanyalah mimpi. Ia bertanya-tanya dimana
gerangan gadis itu berada. Dari tulisan Dira, ia menebak bahwa Dira kini sudah
tidak ada di Indonesia.
Air matanya
semakin deras ketika ia gagal menghubungi Dira. Bahkan ia tidak bisa
menghubungi ayah maupun ibu Dira. Kini, ia benar-benar kehilangan kontak dengan
Dira. Ia sangat berharap bahwa Dira segera memberi kabar padanya melalui
telepon agar ia bisa mengetahui dimana Dira berada sekarang.
Hanung menarik
napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. Ia masih tidak percaya bahwa
Dira pergi begitu saja tanpa memberi kabar padanya. Ia melihat ke setelan
beskap putih yang akan ia pakai saat acara akad nikah 2 jam lagi. Ingin rasanya
ia membatalkan pernikahan itu untuk mencari Dira. Tapi, mana bisa? Ia memegangi
kepalanya dan berusaha menahan air mata yang terus mendesak keluar. Ia
merasakan ada yang menyayat dadanya pagi ini dan merontokkan seluruh
persendiannya.
Hanung segera
menelepon Adit, orang yang menyerahkan surat itu pada Hanung semalam. Ia yakin
bahwa satu-satunya orang yang dapat ditanyai tentang kemana Dira pergi adalah
laki-laki itu.
“Adit! Coba
beritahu gue dimana Dira sekarang!” seru Hanung seketika setelah teleponnya
diterima oleh Adit.
Adit hanya diam
di seberang telepon.
“Jawab, Dit!”
seru Hanung.
“Hanung... Dira
nggak mau lo cari dia lagi,” jawab Adit.
“BERITAHU GUE
DIMANA DIRA SEKARANG!” bentak Hanung tanpa ampun. Ia keluar dari kamar menuju
ruang tengah.
Adit menghela
napas panjang. “Dira sayang sama lo, dan dia nggak mau menyakiti dirinya lebih
dalam lagi dengan membiarkan lo tahu dia ada di mana. Lo sayang sama dia juga,
kan? Bahkan sampai sekarang?” tanya Adit. “Kalau memang lo sayang sama dia,
biarkan dia pergi. Lo juga sudah mendapatkan orang yang tepat buat menemani lo,
kan? Beberapa jam lagi lo sudah menjadi seorang suami, apa lagi yang mau lo
minta dari Dira?” cecar Adit. “Lagian, siapa suruh lo nggak mau cerita apapun
tentang pernikahan lo ke Dira? Lo mau buat surprise?
Lo nggak mikirin perasaan dia?”
“Kenapa lo jadi
marahin gue? Gue kan nggak pernah tahu kalo dia juga suka sama gue!” pekik
Hanung. Air mata kembali membasahi pipinya. “Dit... Gue mohon sama lo, beritahu
gue dia ada di mana. Gue mau minta maaf. Gue sekarang nggak punya kontak dia
sama sekali. Dit, lo tahu gue sayang sama dia dan lo tahu gue nggak pernah
punya keberanian buat mengungkapkannya. Sekarang gue mau mengakui itu ke Dira.
Tolong bantu gue,” pinta Hanung di sela-sela isak tangisnya.
“Maaf, Hanung.
Gue nggak bisa bantu lo. Gue sudah terlanjur janji sama Dira bahwa gue nggak
akan bantu lo buat mencari dia. Lo mau nyakitin dia dengan cara kayak gini?
Sudah cukup Hanung. Cinta lo yang nggak terungkapkan itu sudah jadi pedang yang
membunuh perasaan dia,” ujar Adit sebelum menutup teleponnya.
Hanung bersandar
di sofa. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Air mata mengaliri
sela-sela jarinya. Hatinya hancur dan ia merasa ada separuh jiwanya yang
menghilang. Rasa sesal memenuhi kepala dan dadanya. Ia benar-benar berharap
waktu mampu membawanya ke seminggu yang lalu, saat ia mengantarkan surat
undangan itu ke rumah Dira. Seharusnya ia tetap berusaha untuk menemui Dira
setelah itu, di tengah-tengah kesibukannya mengurus pernikahannya. Setidaknya,
ia bisa melihat Dira untuk terakhir kali, dan mengungkapkan perasaan yang
selama ini ia sembunyikan atas nama persahabatan.
FIN
Jakarta, 1 Desember 2013
No comments:
Post a Comment