Gadis mematut-matut dirinya di depan cermin. Ia merapikan sasakan rambutnya dengan ujung jarinya, mencoba memasukkan anak rambut yang rupanya tidak terkena semprotan hairspray. Ia kemudian menarik-narik ujung kebayanya yang berawarna gading. Memastikan ia sudah tampil sempurna hari ini.
"Ndhuk, ayo berangkat. Sebentar lagi resepsinya mulai," ujar Ibu, melongok di sela-sela tirai yang menutupi pintu kamar Gadis.
Gadis segera mengenakan sepatu kitten heels berwarna keemasan dan bertabur swarovski yang khusus dirancang untuk dikenakan di hari resepsi pernikahannya. Setelah memakai sepatu, sekali lagi Gadis mematut dirinya di depan cermin, memastikan tidak ada sedikitpun kekurangan dalam penampilannya kali ini.
"Wis cah ayu... Udah cantik kok," goda Lik Yuni saat memergoki Gadis yang masih sibuk memandangi bayangannya di cermin.
Gadis tersenyum kecil dan keluar kamar. Di halaman, ayah dan ibunya sudah bersiap menuju taman di mana resepsi pernikahannya dengan Angga dilakukan.
Di tempat resepsi, Angga sudah bersiap dengan menggunakan beskap berwarna gading. Senyumnya mengembang saat melihat wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu berjalan melintasi meja-meja prasmanan menuju pelaminan.
"Kamu cantik, Dis," puji Angga sebelum mengecup kening istrinya itu. Mereka kemudian duduk di kursi berwarna putih, dengan hiasan bunga-bunga mawar putih segar yang menjadi 'atap' bagi pelaminan mereka. Tamu-tamu sudah mulai berdatangan, dan mereka terlihat terkesima dengan dekorasi taman yang sangat romantis namun tetap sederhana.
Ini adalah pernikahan impian Gadis. Garden party, dengan dekorasi serba putih, dan mawar putih di hampir semua sudut di tempat resepsi. Di sisi kanan dan kiri pelaminan, di atas pelaminan, di pojok meja prasmanan, di manapun. Di kursi undangan pun, terdapat hiasan semacam korsase mawar putih mungil di sandaran kursi. Dan hari ini, semua yang Gadis inginkan terwujud. Apalagi dengan Angga di sebelahnya. Gadis merasa menjadi perempuan paling bahagia di muka bumi.
Lagu Born To Love You mengalun merdu dari suara wedding singer di sisi kiri taman. Lagu ini memang lagu yang diinginkan Angga untuk dimainkan saat hari pernikahan mereka.
Tik...tik...tik....
Tiba-tiba saja gerimis turun rintik-rintik. Tentu saja semua ini membuat panik semua orang. Tidak hanya para kru wedding organizer, tetapi juga keluarga kedua mempelai, tamu undangan, serta mempelai sendiri. Semuanya berusaha mencari tempat berteduh karena hujan mulai deras.
"Udah, disini aja, Sayang," ujar Angga hangat. Tangannya menggenggam tangan Gadis, seakan tak ingin melepasnya. Dan hujan semakin deras...hingga Gadis bisa merasakan tubuhnya sudah basah kuyup, bahkan sebelum ia beranjak dari kursi pelaminan dan mencari tempat berteduh.
***
"Bangun! Anak perawan kok bangunnya siang melulu! Bangun! Mandi sana!" Byurrr... Ibu pun menyiram Gadis yang masih melungker di atas tempat tidurnya.
Gadis membuka matanya. Ia berada di kamar tidurnya. Di sisi kasurnya ada ibu yang berdiri dengan wajah geram, tangan kanannya menenteng ember yang sudah kosong.
Tidak ada pernikahan, tidak ada mawar putih, tidak ada tamu undangan.
Tidak ada pernikahan, tidak ada mawar putih, tidak ada tamu undangan.
Dan yang lebih menyakitkan, tidak ada Angga.
FIN
031013
No comments:
Post a Comment